Langsung ke konten utama

Postingan

Korupsi dan Ilusi Denda Damai: Ketika Uang Menggantikan Keadilan

  Oleh: Hamdan eSA Wacana denda damai bagi koruptor kembali mengemuka dengan dalih pragmatis: uang negara dapat segera kembali, proses hukum menjadi efisien, dan lembaga masyarakat tidak semakin sesak. Sekilas, argumen ini tampak rasional. Namun jika ditelusuri lebih dalam, gagasan mendamaikan korupsi dengan uang, ini justru mengandung persoalan serius. Ia mereduksi keadilan menjadi transaksi, dan menempatkan hukum dalam posisi tunduk pada kekuasaan serta kapital. Padahal kita ketahui bahwa korupsi bukan sekadar kejahatan finansial, tetapi lebih dari itu adalah kejahatan moral dan sosial. Ia merusak kepercayaan masyarakat, menggerogoti legitimasi negara, serta menciptakan ketidakadilan struktural yang dampaknya jauh melampaui angka kerugian negara. Olehnya itu, menyelesaikan korupsi dengan denda damai bukan hanya problem yuridis, tetapi juga problem etis dan filosofis. Korupsi bukan kejahatan biasa. Ia bukan tindakan individu yang berdiri sendiri, melainkan kejahatan yang lah...
Postingan terbaru

HALTE YANG HUJAN

  Cerita Mini (Cermin) Hamdan Biasanya pagi begini aku menunggumu di halte kecil dekat Jalan Pettarani. Kota Makassar belum sepenuhnya terjaga. Aspal masih lembab oleh sisa embun malam, dan pedagang buroncong sedang menyalakan pembakarannya. Aku hafal ritmenya, seperti aku hafal caramu datang. Langkah ringan, rambut ikal terikat sederhana, dan senyum yang entah kenapa selalu membuat pagi terasa lebih hidup. Tapi pagi ini berbeda. Hujan turun deras sejak subuh. Redah sebentar, menjadi spasi, lalu deras lagi. Titik air menumbuk atap halte seperti ingin mengusir siapa pun yang menyimpan harapan. Aku tetap di sini menanti dia, memeluk tas, menatap jalan yang mulai dipenuhi pete-pete warna merah dan biru.  Biasanya, di jam begini, Wulan sudah muncul dari mulut lorong, datang menyapaku dengan senyum dan lambaian kecil seolah kami baru saja bertemu. Ya, keistimewaan Wulan adalah setiap kali saat bertemu, ia mampu membuat suasana seperti baru pertama bertemu. Sekarang, setengah jam be...

Terlihat Dramatis Tapi Realitas

Penulis: Nuryadi, S.H, M.M Beberapa hari terakhir, media sosial dan portal berita dipenuhi kemarahan soal kasus keracunan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Wajarlah, tak ada yang bisa menoleransi anak-anak yang jatuh sakit karena makanan yang seharusnya menyehatkan mereka. Tapi di tengah gelombang kemarahan ini, kita juga perlu jujur dan waras dengan mencoba melihat pada skala makro. K asus keracunan memang nyata, tapi tidak boleh menyamaratakan semua program, ada kurang lebih 10.000 lebih siswa yang dilaporkan terdampak keracunan. Itu angka besar, tapi kita juga harus jujur bahwa lebih dari 60 juta penerima MBG tidak mengalami hal serupa. Artinya, masalah ini bukan soal konsep programnya, melainkan soal pelaksanaan di titik-titik tertentu. Masalah keamanan pangan bukan hal sepele, tapi bisa diperbaiki tanpa harus mematikan program yang menyelamatkan jutaan anak dari kelaparan dan stunting. M enyalahkan pemerintah itu mudah, tapi mewujudkan solusi butuh kerja nyata . P rogram sebes...

Dia Yang Pergi di Sore

  Serial Cermin (Cerita Mini) Hamdan “Apa kamu selalu datang ke taman kota ini sendirian?” tanya Wulan sambil duduk di bangku sebelahku. Aku menutup buku dan menoleh. “Kadang. Tergantung apakah hari ini saya ingin ketenangan atau kebisingan.” Wulan tersenyum. “Berarti hari ini?” “Ketenangan,” jawabku singkat. Sejak sore itu, Wulan juga sering muncul tanpa perlu janji lebih dulu. Kami berbicara tentang hal-hal kecil yang sebagian kadang tiba-tiba menjadi penting. Tentang hujan yang datang terlalu cepat, rencana hidup yang terlalu jauh, dan rasa lelah yang tak tahu harus diletakkan ke mana. Wulan lebih banyak bertanya, aku lebih sering diam. Tapi entah bagaimana, diam itu terasa dia mengerti. “Kamu seperti orang yang takut kehilangan,” katanya suatu hari. Aku menggeleng. “Aku hanya tidak ingin berharap berlebihan.” Wulan menatapku lama. “Kadang berharap itu satu-satunya cara bertahan.” Aku ingin membantah, tapi kata-katanya tertanam di dadaku. Tangannya pernah hampir menggenggam tang...

Membaca Allamungang Batu sebagai Teks Komunikasi Budaya

Oleh: Hamdan eSA Situs Bersejarah  Allamungan Batu di Luyo, Sulawesi Barat (Foto: kompadansamandar, telah diedit) Dalam kajian komunikasi budaya, ruang dan artefak tidak cukup dipahami sekedar sebagai objek material. Lebih dari itu, sejatinya ia dipahami sebagai medium penyampai makna. Kebudayaan berkomunikasi melalui simbol, ritus, dan penanda ruang yang merekam serta mentransmisikan nilai-nilai kolektif. Situs Allamungang Batu di Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, merupakan salah satu contoh penting bagaimana artefak budaya berfungsi sebagai teks komunikasi yang hidup dalam memori sosial masyarakat Mandar. Situs ini merupakan simbol perjanjian sejumlah kerajaan Pitu Ulunna Salu ( tujuh kerajaan di wilayah pegunungan) dan Pitu Ba q bana Binanga ( tujuh kerajaan di wilayah hulu) . Selama ini, situs-situs budaya lokal kerap dibaca dari sudut pandang sejarah atau arkeologi semata. Padahal, pendekatan komunikasi budaya membuka ruang tafsir yang lebih luas. Pendekatan komun...

Epistemologi Klik: Cara Baru Manusia Mengetahui di Era Digital

Oleh: Hamdan eSA Apakah manusia modern masih mencari kebenaran, atau sekadar mengklik yang paling menarik? Pertanyaan ini menandai pergeseran mendasar dalam cara manusia memperoleh pengetahuan pada era digital.  Jika di masa lalu pengetahuan dicapai melalui proses berpikir, membaca, meneliti, dan berdialog secara mendalam, kini pengetahuan sering hadir dalam bentuk instan — hanya sejauh satu klik di layar. Tindakan klik bukan lagi sekadar gerakan jari di atas gawai, melainkan simbol dari perubahan epistemik: cara baru manusia “mengetahui” sesuatu di tengah derasnya arus informasi. Kita hidup dalam masyarakat yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai masyarakat simulakra — dunia di mana representasi menggantikan realitas. Dalam konteks ini, klik menjadi gerbang bagi simulasi pengetahuan. Manusia modern percaya ia mengetahui sesuatu karena telah mengklik tautan, membaca unggahan, atau menonton video pendek, meskipun tanpa proses validasi rasional ataupun pemahaman mendalam.  Da...

Kita dan Short Video

  Oleh: Hamdan eSA Di tengah derasnya arus informasi dan derasnya kompetisi atensi, masyarakat hari ini hidup dalam zaman yang ditandai oleh kecepatan ( speed y ) dan keringkasan ( b revity ) . Kita menyaksikan sebuah pergeseran besar dalam kebudayaan, yakni; orang lebih tertarik menonton potongan video berdurasi ringkas ketimbang membaca artikel panjang, mendengarkan ceramah utuh, atau menyimak diskusi mendalam. Fenomena ini bukan sekadar tren media sosial, melainkan representasi dari karakteristik zaman yang bisa disebut sebagai era instan, visual, dan algoritmik , sebuah masa di mana kecepatan mengalahkan kedalaman dan impresi menggeser refleksi. Video ringkas , seperti yang beredar di TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, atau Facebook Stories , bagaikan gula digital yang mengaktifkan dopamin dengan cepat di dalam otak. Ia mudah dikonsumsi, ringan, menyenangkan, dan seringkali minim tuntutan intelektual. Tidak membutuhkan konsentrasi panjang, tidak menuntut komitmen serius...