Postingan

Idul Fitri sebagai Peristiwa Sosial dan Budaya

Gambar
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)   Suatu ketika sekitar saat mahasiswa awal, menjelang libur Ramadhan, saya ajukan tantangan pada teman-teman kos; “ayo, siapa berani memutuskan sedikit “urat rindu” dengan cara tidak pulang kampung sampai lebaran”? Meski tidak ada jawaban tegas, tapi akhirnya, memasuki Ramadhan ada dua teman yang nampaknya tidak mudik.   Demikianlah, sekitar sepuluh pertama Ramadhan kami telah kehabisan amunisi; uang, minyak tanah, dan bahan makanan. Wesel Pos tak datang-datang. Kami belum begitu terbiasa menjalani hidup di kota sebagai mahasiswa rantau masih besar malunya. Kami harus survival ke masjid untuk buka puasa. Berbuka sekaligus juga sebagai sahur.   Kami punya sebuah gitar milik teman yang mudik, tetapi tanpa senar 1, 2 dan 3. Saya berinisiatif menggunakan tali kopling motor sebagai pengganti senar agar dapat digunakan. Dengan gitar itu, setiap sore saya bernyanyi beberapa lagu yang itu-itu saja, berulang. Tetapi kadang air mata...

"La‘allakum Tattaqun" dan Insan al-Kamil

Gambar
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)   Di sebuah kampung kecil, hiduplah seorang tukang roti bernama Abdullah. Ia dikenal sebagai orang yang jujur dan rajin beribadah. Setiap pagi sebelum subuh, ia sudah menyalakan tungku dan menyiapkan adonan roti. Pelanggannya datang dari berbagai penjuru karena roti buatannya terkenal lezat dan lembut.   Suatu hari, seorang pemuda bertanya kepadanya, “Pak Abdullah, apa rahasia Anda sehingga roti buatan Anda selalu enak dan hidup Anda selalu tenang?”   Abdullah tersenyum dan menjawab, “Rahasia saya? Itu ada di Ramadhan.”   Pemuda itu mengernyitkan dahi, “Apa maksudnya?”   Abdullah menepuk bahu pemuda itu dan berkata, “Setiap Ramadhan, saya belajar menahan lapar bukan hanya dari makanan, tapi juga dari keburukan hati. Saya belajar mengadoni sabar seperti saya mengadoni bahan roti, belajar membakar nafsu seperti saya memanggang roti, dan belajar memberikan manfaat bagi orang lain seperti roti ini mengenyangkan mereka...

Memaknai Fitrah sebagai Potensi

Gambar
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Di sebuah desa kecil, hidup seorang kakek yang gemar berkebun. Suatu hari, ia memberikan dua bibit pohon kepada dua cucunya, Amir dan Budi. “Ini benih yang sama”, katanya, “tetapi bagaimana ia tumbuh, tergantung bagaimana kalian merawatnya”. Amir menanam benihnya di tanah subur, menyiraminya setiap hari, dan melindunginya dari hama. Sementara itu, Budi asal-asalan; ia meletakkan benihnya di tanah kering dan jarang menyiraminya. Bulan demi bulan berlalu. Pohon Amir tumbuh rindang, daunnya hijau, dan berbuah lebat. Sebaliknya, benih Budi hanya tumbuh kecil dan layu, nyaris mati. Melihat hal ini, Budi mengeluh, “Kenapa pohonku tidak seperti milik Amir”? Kakek tersenyum, lalu berkata, “Nak, benih itu seperti fitrah dalam diri manusia. Semua orang dilahirkan dengan potensi yang sama, tetapi hanya mereka yang merawat dan mengembangkannya yang akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bermanfaat”. *** Fitrah adalah konsep fundamenta...

Negara yang Kembali ke Fitrah

Gambar
Oleh Hamdan eSA (Dosun Ilmu Komunikasi Unasman) Di sebuah negeri bernama Fitrahilia, rakyatnya dulu hidup damai dan sejahtera. Pemimpinnya jujur, hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, dan tak ada yang kelaparan. Negeri itu seperti rumah yang selalu bersih, rapi, dan penuh kasih sayang. Seiring berjalannya waktu, para pemimpin mulai lupa janji mereka. Sebagian pejabat sibuk mengisi kantong sendiri, hukum mulai condong kepada mereka yang berkuasa, dan rakyat kecil semakin sulit hidup. Negeri yang dulu terang benderang berubah menjadi kelam, seperti rumah yang dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Suatu hari, seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya, "Ayah, mengapa negeri kita seperti ini"? Sang ayah menghela napas, "Karena kita lupa jalan pulang, Nak". "Jalan pulang ke mana"? Tanya sang anak. "Ke fitrah. Ke tempat di mana kejujuran, keadilan, dan kasih sayang menjadi dasar segalanya". Anak itu berpikir sejenak lalu berkata, "Kala...

Antrian Zakat, Dermawan, dan Negara

Gambar
  Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)   Suatu pagi di bulan Ramadhan, Pak Andank sudah berdiri di antrian panjang di depan sebuah masjid besar di kotanya. Matahari belum sepenuhnya terbit, tapi ratusan orang sudah berbaris rapi, sebagian membawa kantong plastik lusuh, sebagian lagi menggandeng anak-anak mereka yang masih mengantuk.   Pak Andank bukan orang baru di antrian ini. Sudah lebih dari lima tahun setiap Ramadhan ia datang, berharap mendapat sekarung beras dan sedikit uang dari zakat yang dibagikan. Tahun lalu, ia pulang dengan tangan kosong karena kehabisan jatah. Tahun ini, ia datang lebih pagi.   Seorang pemuda berbaju rapi memperhatikannya dari kejauhan. Ia mengenali Pak Andank sebagai tukang becak yang sering mangkal di dekat kantornya. Dengan ragu, ia mendekat dan bertanya, "Pak, tiap tahun saya lihat Bapak di sini. Apa hidup Bapak tidak berubah"?   Pak Andank tersenyum, lalu menjawab pelan, "Nak, tiap tahun orang-orang baik selalu ada y...

Mudik: Perjalanan Emosional, Ekonomi, dan Identitas

Gambar
    Oleh  Hamdan eSA  (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)   Sejak tiga bulan lalu, Andank sudah menabung untuk mudik. Ia bekerja sebagai karyawan pabrik di Makassar, dan setiap tahun ia selalu pulang ke kampung halamannya di Kendari. Baginya, mudik bukan sekadar perjalanan pulang, tapi juga ajang pembuktian. Ia ingin keluarganya melihat bahwa hidupnya di kota berjalan baik.   Tetapi di tahun ini berbeda. Harga tiket bus naik drastis, pengeluaran di kota pun makin besar. Andank sempat ragu, tapi bayangan wajah ibunya yang menunggu di beranda rumah membuatnya nekat. Ia rela berdesakan di terminal, membawa oleh-oleh seadanya.   Begitu tiba di desa, ia disambut hangat oleh keluarga. Tapi di tengah kegembiraan itu, ada hal yang mengusiknya. Tetangga sebayanya bercerita tentang kesuksesan mereka: ada yang sudah punya bisnis, ada yang membawa mobil pribadi. Andank hanya tersenyum, menyembunyikan kegelisahan.   Malam harinya, ia duduk di serambi rumah, merenu...

Mudik: Mengurai Makna "Kembali"

Gambar
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Di sebuah terminal bus yang padat menjelang Lebaran, Rudi duduk sambil memeriksa ponselnya. Di sebelahnya, seorang bapak tua tersenyum, melihat hiruk-pikuk orang-orang yang ingin pulang ke kampung halaman. “Mudik, Nak?” tanya si bapak. Rudi mengangguk. “Iya, Pak. Setiap tahun pulang, tapi anehnya, rasanya diri ini tetap sama saja.” Bapak itu tertawa kecil. “Nak, mudik bukan cuma soal kembali ke rumah, tapi juga soal kembali ke hati yang bersih. Di kota, kita sibuk mengejar dunia, sering lupa pada yang hakiki. Mudik itu bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga momen kembali ke fitrah. Menyegarkan hubungan kita dengan keluarga, sesama, dan terutama dengan Allah.” Rudi terdiam. Ia teringat bagaimana selama ini hidupnya penuh kesibukan, sering melupakan hal-hal esensial. *** Mudik telah menjadi semacam ritual tahunan yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap tahun, jutaan perantau meninggalkan kota-kota besar u...