Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Setiap Ramadhan, ada perubahan yang tidak hanya terasa pada tubuh, tetapi juga pada ruang sosial. Percakapan menjadi lebih hati-hati. Nada suara lebih lembut. Ungkapan “maaf” lebih mudah terucap. Bahkan di ruang-ruang digital yang biasanya keras dan reaktif, muncul ajakan untuk menjaga lisan dan tulisan. Seolah-olah bulan ini bukan hanya mengatur jam makan, tetapi juga mengatur cara berbicara. Dalam percakapan publik, simbol visual kerap dibaca secara tergesa-gesa dan dilekati makna ideologis tertentu. Misalnya, jenggot sering diasosiasikan dengan posisi politik atau keberpihakan tertentu, seolah-olah ia secara inheren mengandung pesan ideologis yang tegas. Namun realitas tidak selalu mengikuti logika simbolik yang disederhanakan itu. Ada figur yang secara visual diasumsikan sebagai “lawan keras” suatu entitas politik, tetapi dalam praktik justru berada dalam relasi kemitraan. Bahkan dalam pengalaman personal, seseorang bisa saja di...
Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Undangan itu biasanya datang sederhana: sebuah pesan singkat di grup WhatsApp, poster digital berwarna hijau keemasan, atau kalimat ringan, “Bukber, yuk. Sudah lama tidak kumpul.” Tidak ada kewajiban formal untuk hadir. Namun ada dorongan yang sulit dijelaskan, seolah Ramadhan belum lengkap tanpa satu atau dua pertemuan berbuka bersama. Menjelang magrib, ruang-ruang publik berubah fungsi. Restoran yang biasanya menjadi tempat makan biasa, mendadak menjadi ruang temu yang penuh tawa. Masjid-masjid menyiapkan takjil dalam jumlah besar. Rumah-rumah membuka pintu lebih lebar. Orang-orang datang dengan pakaian terbaiknya, sebagian dengan aroma parfum yang terasa lebih istimewa dari hari biasa. Ada suasana yang terasa dirancang, meski tanpa skenario tertulis. Bukber sering dipahami sekadar sebagai aktivitas makan bersama setelah seharian berpuasa. Namun jika dilihat melalui perspektif James W. Carey tentang komunikasi sebagai ritu...