Hamdan eSA Seorang pegawai kantor pernah berkata bahwa ia baru benar-benar “mendengar” jam dinding saat Ramadhan. Pada bulan-bulan biasa, ia jarang memperhatikan waktu selain untuk rapat atau tenggat pekerjaan. Tetapi ketika berpuasa, terutama menjelang magrib, detik terasa lebih panjang. Ia beberapa kali melirik jam, bukan karena takut terlambat, melainkan karena menunggu satu momen yang sama setiap hari: adzan. Suatu sore, listrik di kantornya sempat padam. Jam digital mati. Ia merasa gelisah, seolah kehilangan pegangan. “Ternyata saya tidak hanya menunggu makanan,” katanya, “saya menunggu tanda.” Sejak itu ia sadar, selama Ramadhan, waktu bukan sekadar angka. Ia menjadi bahasa yang ia dengarkan dengan lebih peka. *** Pada bulan-bulan biasa, waktu berjalan tanpa banyak kita sadari. Pagi dimulai dengan tergesa, siang dipenuhi pekerjaan, malam ditutup dengan kelelahan. Jam hanya alat ukur produktivitas. Ia netral, datar, dan mekanis. Namun ketika Ramadhan datang, waktu ber...
Oleh: Hamdan eSA Seorang manajer di perusahaan multinasional, bercerita tentang pengalaman Ramadhannya yang terasa berbeda. Ia terbiasa hidup dalam ritme cepat. Ada rapat daring sejak pagi, kopi yang nyaris tanpa jeda, makan siang bisnis, dan notifikasi yang tak pernah berhenti berbunyi. Dalam dunianya, waktu adalah produktivitas, dan produktivitas adalah harga diri. Hari pertama puasa tahun lalu, ia tetap menjalani ritme yang sama. Bedanya hanya satu: tidak ada kopi, tidak ada camilan, tidak ada makan siang. Menjelang pukul dua siang, ia mulai merasakan pusing ringan. Tangannya refleks membuka aplikasi online pesan-antar makanan. Lalu tiba-tiba terdiam. Ia tersenyum kecil. “Oh ya, saya sedang puasa,” gumamnya. Tetapi yang menarik bukan itu. Yang paling mengganggunya bukanlah rasa lapar, melainkan kesadaran baru tentang tubuhnya sendiri. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar merasakan detak jantungnya saat lelah. Ia menyadari betapa sering ia makan bukan karen...