Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Undangan itu biasanya datang sederhana: sebuah pesan singkat di grup WhatsApp, poster digital berwarna hijau keemasan, atau kalimat ringan, “Bukber, yuk. Sudah lama tidak kumpul.” Tidak ada kewajiban formal untuk hadir. Namun ada dorongan yang sulit dijelaskan, seolah Ramadhan belum lengkap tanpa satu atau dua pertemuan berbuka bersama. Menjelang magrib, ruang-ruang publik berubah fungsi. Restoran yang biasanya menjadi tempat makan biasa, mendadak menjadi ruang temu yang penuh tawa. Masjid-masjid menyiapkan takjil dalam jumlah besar. Rumah-rumah membuka pintu lebih lebar. Orang-orang datang dengan pakaian terbaiknya, sebagian dengan aroma parfum yang terasa lebih istimewa dari hari biasa. Ada suasana yang terasa dirancang, meski tanpa skenario tertulis. Bukber sering dipahami sekadar sebagai aktivitas makan bersama setelah seharian berpuasa. Namun jika dilihat melalui perspektif James W. Carey tentang komunikasi sebagai ritu...
Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Suatu malam pertengahan Ramadhan, saya datang ke masjid sedikit terlambat. Saf sudah hampir penuh. Saya berdiri di barisan paling belakang, di antara seorang anak kecil yang masih mengenakan peci kebesaran dan seorang lelaki tua yang tongkatnya disandarkan di dinding. Kami bertiga tidak saling mengenal. Ketika imam memulai bacaan, anak kecil di samping saya beberapa kali menguap dan hampir kehilangan keseimbangan. Sesekali ia melihat ke arah ayahnya di saf depan. Di sisi lain, lelaki tua itu berdiri dengan napas yang terdengar berat, tetapi tetap tegak setiap kali takbir berpindah ke gerakan berikutnya. Pada rakaat-rakaat terakhir, saya melihat tangan tuanya sedikit bergetar ketika mengangkatnya untuk berdoa. Tidak ada percakapan di antara kami. Tidak ada perkenalan. Namun ketika imam membaca doa qunut witir dan suara “amin” menggema panjang, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Malam itu saya pulang dengan langkah yang berbeda. ...