Langsung ke konten utama

Postingan

Taqwa, Spasi, dan Rasionalitas Moral

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Suatu malam, dalam sebuah diskusi daring yang rasa-rasanya kian “memanas”, seorang peserta begitu yakin pada argumennya. Data telah ia siapkan, kutipan telah ia susun, dan dukungan dari pengikutnya terus berdatangan. Setiap sanggahan dibalasnya cepat, bahkan lebih menusuk. Ia merasa menang. Namun sebelum menekan tombol “kirim” untuk komentar berikutnya, ia terdiam sejenak. Ada satu data yang belum ia periksa ulang. Ada satu kemungkinan bahwa ia bisa saja keliru. Tidak ada yang akan tahu jika ia mengabaikannya. Algoritma tetap akan berpihak pada kepercayaan dirinya. Tetapi ia memilih menunda, membuka kembali sumber rujukan, dan menemukan bahwa memang ada bagian yang ia salah pahami. Komentarnya pun ia ubah. Tidak sekeras sebelumnya, tidak seangkuh sebelumnya. Dalam ruang yang tak terlihat, tak ada tepuk tangan untuk keputusan itu. Tetapi mungkin, ia masih memiliki konsistensi meski pada setitik kesadaran, bahwa ini  bukan soal keme...
Postingan terbaru

Puasa dan Etika Diskursus di Media Sosial

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Di tengah riuhnya media sosial, Ramadan sering kali hadir sebagai paradoks. Di satu sisi, ia disebut bulan pengendalian diri, bulan penyucian lisan dan batin.  Di sisi lain, linimasa tetap dipenuhi amarah, sindiran tajam, debat yang kehilangan adab, bahkan saling cela atas nama kebenaran. Seolah-olah puasa berhenti pada perut, tetapi tidak sampai pada kata-kata. Padahal, inti puasa bukan semata menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menunda dorongan. Menahan respons spontan. Mengendalikan impuls untuk segera membalas. Dalam tradisi keagamaan, lisan bahkan ditempatkan sebagai medan ujian yang lebih berat daripada rasa lapar. Menahan kata sering kali lebih sulit daripada menahan haus. Di titik inilah puasa bisa dibaca sebagai latihan etika diskursus. Dalam kerangka pemikiran Jürgen Habermas, ruang publik ideal dibangun melalui tindakan komunikatif, yakni komunikasi yang berorientasi pada saling pengertian, bukan pada kemenangan sepihak....

Ramadhan dan Ranah Publik yang Beradab

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Setiap Ramadhan, ada perubahan yang tidak hanya terasa pada tubuh, tetapi juga pada ruang sosial. Percakapan menjadi lebih hati-hati. Nada suara lebih lembut. Ungkapan “maaf” lebih mudah terucap.  Bahkan di ruang-ruang digital yang biasanya keras dan reaktif, muncul ajakan untuk menjaga lisan dan tulisan. Seolah-olah bulan ini bukan hanya mengatur jam makan, tetapi juga mengatur cara berbicara. Dalam percakapan publik, simbol visual kerap dibaca secara tergesa-gesa dan dilekati makna ideologis tertentu.  Misalnya, jenggot sering diasosiasikan dengan posisi politik atau keberpihakan tertentu, seolah-olah ia secara inheren mengandung pesan ideologis yang tegas. Namun realitas tidak selalu mengikuti logika simbolik yang disederhanakan itu. Ada figur yang secara visual diasumsikan sebagai “lawan keras” suatu entitas politik, tetapi dalam praktik justru berada dalam relasi kemitraan. Bahkan dalam pengalaman personal, seseorang bisa saja di...

Bukber dan Dramaturgi Kebersamaan

  Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Undangan itu biasanya datang sederhana: sebuah pesan singkat di grup WhatsApp, poster digital berwarna hijau keemasan, atau kalimat ringan, “Bukber, yuk. Sudah lama tidak kumpul.”  Tidak ada kewajiban formal untuk hadir. Namun ada dorongan yang sulit dijelaskan, seolah Ramadhan belum lengkap tanpa satu atau dua pertemuan berbuka bersama. Menjelang magrib, ruang-ruang publik berubah fungsi. Restoran yang biasanya menjadi tempat makan biasa, mendadak menjadi ruang temu yang penuh tawa. Masjid-masjid menyiapkan takjil dalam jumlah besar.  Rumah-rumah membuka pintu lebih lebar. Orang-orang datang dengan pakaian terbaiknya, sebagian dengan aroma parfum yang terasa lebih istimewa dari hari biasa. Ada suasana yang terasa dirancang, meski tanpa skenario tertulis. Bukber sering dipahami sekadar sebagai aktivitas makan bersama setelah seharian berpuasa. Namun jika dilihat melalui perspektif James W. Carey tentang komunikasi sebagai ritu...

Tarawih: Ritual Sosial Memproduksi Solidaritas

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Suatu malam pertengahan Ramadhan, saya datang ke masjid sedikit terlambat. Saf sudah hampir penuh. Saya berdiri di barisan paling belakang, di antara seorang anak kecil yang masih mengenakan peci kebesaran dan seorang lelaki tua yang tongkatnya disandarkan di dinding. Kami bertiga tidak saling mengenal. Ketika imam memulai bacaan, anak kecil di samping saya beberapa kali menguap dan hampir kehilangan keseimbangan. Sesekali ia melihat ke arah ayahnya di saf depan.  Di sisi lain, lelaki tua itu berdiri dengan napas yang terdengar berat, tetapi tetap tegak setiap kali takbir berpindah ke gerakan berikutnya. Pada rakaat-rakaat terakhir, saya melihat tangan tuanya sedikit bergetar ketika mengangkatnya untuk berdoa. Tidak ada percakapan di antara kami. Tidak ada perkenalan. Namun ketika imam membaca doa qunut witir dan suara “amin” menggema panjang, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Malam itu saya pulang dengan langkah yang berbeda. ...

Ramadhan sebagai Ritual Komunikasi Kolektif

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)   Di sebuah perumahan kecil, setiap sore selama Ramadhan, seorang bapak pensiunan selalu duduk di teras rumahnya lima belas menit sebelum magrib. Ia tidak banyak berbicara. Di mejanya hanya segelas air dan beberapa butir kurma. Tetangganya melakukan hal yang sama di rumah masing-masing. Mereka tidak saling memberi aba-aba. Tidak ada pengumuman khusus. Namun setiap hari, pada waktu yang hampir sama, pintu-pintu rumah terbuka, kursi-kursi ditarik ke depan, dan wajah-wajah menoleh ke arah masjid di ujung jalan. Ketika adzan berkumandang, hampir serentak gelas-gelas terangkat. Tidak ada percakapan panjang. Tetapi dalam gerakan yang sama itu, mereka seperti sedang mengatakan sesuatu bersama, tanpa perlu saling menjelaskan. *** Dalam pandangan James W. Carey, komunikasi tidak selalu tentang pengiriman pesan dari pengirim ke penerima. Model transmisi yang menekankan informasi, efisiensi, dan akurasi, bukan satu-satunya cara memaham...

Tubuh Berbicara, Puasa dan Etika Kehadiran

  Hamdan eSA  (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Seorang dosen dikenal tegas dan cepat berbicara saat di kelas. Ia jarang memberi jeda, penjelasannya mengalir seperti deret poin yang harus segera selesai. Saat Ramadhan, mahasiswanya merasakan sesuatu yang berbeda. Ia berbicara lebih pelan, memberi ruang tanya lebih panjang, bahkan beberapa kali tersenyum sebelum menjawab. Suatu hari seorang mahasiswa datang terlambat. Biasanya ia langsung menegur. Kali itu ia hanya berkata, “Silakan duduk. Lain kali lebih awal, ya”. Seusai kelas, seorang mahasiswa berbisik, “Bapak kelihatan lebih tenang bulan ini”. Mungkin bukan hanya kata-katanya yang berubah. Cara ia berdiri, menatap, dan memberi jeda, semuanya seperti sedang menyampaikan pesan tanpa suara. *** Puasa sering dipahami sebagai praktik menahan lapar dan dahaga. Ia ditempatkan dalam kerangka disiplin spiritual yang bersifat internal; hubungan antara manusia dan Tuhan. Namun jika kita melihat lebih jernih, puasa tidak berhenti pada w...