Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Ada sesuatu yang berubah dalam kehidupan sosial umat Islam ketika bulan Ramadhan. Jam makan bergeser, aktivitas keseharian menyesuaikan waktu berbuka dan sahur, masjid menjadi lebih ramai. Dan percakapan sehari-hari juga dipenuhi ungkapan seperti: “sudah berbuka?” atau “tarawih di mana malam ini?”. Bahkan di ruang publik yang sekuler sekalipun, suasana Ramadhan terasa sebagai pengalaman bersama. Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya praktik ibadah individual, tetapi juga pengalaman sosial yang membentuk identitas kolektif. Dalam teori identitas sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel, manusia memahami dirinya tidak hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari kelompok tertentu. Identitas sosial terbentuk ketika seseorang merasa menjadi anggota suatu komunitas. Mungkin agama, bangsa, atau kelompok budaya. Di sana mereka berbagi simbol, nilai, serta praktik yang sama dengan anggota lain. Ramadhan menjadi salah satu m...
Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Pada suatu sore di bulan Ramadhan, seorang pemuda berdiri di depan seorang penjual makanan kecil di pinggir jalan. Ia membeli beberapa bungkus takjil, lalu memberikannya kepada seorang pengemis tua yang duduk di dekat trotoar. Adegan itu sebenarnya sederhana. Seseorang berbagi makanan dengan orang lain. Tetapi sebelum makanan itu berpindah tangan, seorang temannya sudah lebih dulu mengangkat ponsel dan merekam momen tersebut. Beberapa jam kemudian, video itu muncul di media sosial. Musik latar yang menyentuh ditambahkan. Tulisan “berbagi di bulan suci” muncul di layar. Komentar pun berdatangan. Ada yang terharu, ada yang memuji, ada pula yang membagikannya kembali. Kisah seperti ini semakin sering kita temui di era media digital. Banyak tindakan kebaikan tidak hanya dilakukan, tetapi juga ditampilkan. Kedermawanan, doa, tangis haru, bahkan momen ibadah sering hadir sebagai bagian dari narasi visual yang dibagikan kepada publik. *** ...