Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Suatu sore jelang berbuka, seorang mahasiswa sedang berdiri tepat depan warung kecil di pinggir jalan. Ia terlihat ragu-ragu. Di depannya tersedia berbagai minuman dingin yang tampak menyegarkan setelah seharian berpuasa. Ia menatap jam di ponselnya. Waktu maghrib masih sekitar dua jam lagi. Tidak ada orang yang memperhatikan apakah ia akan minum sekarang atau menunggu beberapa saat lagi. Namun akhirnya ia menghela napas dan menutup kembali botol minuman yang sempat ia buka. Keputusan kecil itu tampak sederhana. Tetapi sesungguhnya di sanalah proses penting sedang terjadi. Seseorang sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri. Dalam perspektif interaksi simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead, diri manusia ( self ) tidak terbentuk secara otomatis sejak lahir. Diri berkembang melalui proses interaksi sosial. Terbentuk melalui cara seseorang memahami harapan orang lain dan menafsirkan makna dari tindakan-tindakannya sendiri....
Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Bulan suci Ramadhan sering dipahami sebagai momentum spiritual yang memperkuat nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian sosial. Namun, jika dilihat melalui perspektif teori identitas sosial, pengalaman kolektif selama Ramadhan juga dapat memperlihatkan dinamika pembentukan batas-batas kelompok dalam masyarakat. Seperti ynng telah dijelaskan pada dua esai sebelumnya, Teori Identitas Sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel menjelaskan bagaimana individu cenderung mengategorikan dirinya dan orang lain ke dalam kelompok tertentu. Lebih jauh, identifikasi tersebut kemudian membentuk pola hubungan antara ingroup (kelompok dalam) dan outgroup (kelompok luar). Dalam konteks Ramadhan, dinamika ini dapat memunculkan potensi eksklusivitas sekaligus membuka peluang bagi praktik inklusivitas sosial. Dalam masyarakat Muslim, Ramadhan menjadi salah satu simbol kuat yang memperkuat identitas kolektif tersebut. Praktik seperti puasa, shala...