Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Banyak orang membicarakan Ramadan di era algoritma dengan nada cemas. Misalnya terkait tentang polarisasi meningkat, konten sensasional lebih cepat viral, dan ruang digital dipenuhi perdebatan agama. Namun pembacaan semacam itu sering berhenti pada isi pesan saja, pada konten yang beredar. Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Marshall McLuhan, persoalan utama bukanlah apa yang disampaikan, melainkan pada medium yang menyampaikannya. The medium is the message, media adalah pesan itu sendiri. Algoritma bukan sekadar alat distribusi konten. Ia adalah arsitektur persepsi. Ia menentukan apa yang sering kita lihat, seberapa lama kita berhenti, dan pola apa yang dianggap penting. Dalam arti McLuhanian, algoritma adalah ekstensi sistem saraf kolektif kita. Ia memperluas sekaligus membentuk kesadaran. Ramadan, dalam pengalaman tradisional, adalah ritme. Ia ditandai oleh waktu sahur, jeda siang yang lebih hening, dan buka yang dinanti. Ada perl...
Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Askese sering dipahami sebagai praktik menjauh dari kenikmatan duniawi. Menahan diri, membatasi hasrat, menyederhanakan hidup, dan lain-lain yang serupa. Dalam banyak tradisi, ia diasosiasikan dengan kehidupan para petapa atau kaum sufi yang memilih jalan sunyi. Tetapi askese bukan sekadar pengingkaran terhadap dunia. Ia adalah latihan pembentukan diri. Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, Michel Foucault menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja dari luar melalui institusi dan aturan, tetapi juga melalui cara individu membentuk dirinya sendiri. Ia berbicara tentang “teknologi diri,” yakni praktik-praktik di mana seseorang secara sadar mengolah hidupnya sebagai proyek etis. Dalam pengertian ini, askese bukan penolakan terhadap kekuasaan, melainkan cara merebut kembali kekuasaan atas diri. Kita hidup dalam masyarakat yang terus-menerus merangsang hasrat, termasuk hasrat untuk berbicara, bereaksi, dan tampil. Media sosial...