Langsung ke konten utama

Postingan

Ramadhan dan Negosiasi Makna Sehari-hari

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Suatu siang di bulan Ramadhan, seorang pegawai kantor sedang duduk di ruang kerja bersama beberapa rekannya. Di meja sebelah, seorang kolega yang tidak berpuasa sedang makan siang. Situasi itu berlangsung biasa saja. Tidak ada yang memprotes, tidak ada pula yang merasa terganggu secara berlebihan. Hanya sesekali muncul percakapan ringan: “Silakan saja makan, tidak apa-apa.”  Di tempat lain, mungkin situasinya berbeda. Ada orang yang memilih menahan diri untuk tidak makan di depan teman yang sedang berpuasa. Perbedaan-perbedaan kecil seperti ini menunjukkan sesuatu yang menarik dalam kehidupan sosial. Makna dari suatu tindakan tidak selalu tetap. Ia sering kali dinegosiasikan dalam interaksi sehari-hari. Dalam perspektif interaksi simbolik, manusia tidak hanya hidup dalam dunia fisik, tetapi juga dalam dunia makna. Makna itu tidak hadir begitu saja secara otomatis. Ia terbentuk melalui proses interaksi sosial. Yakni ketika manusia m...
Postingan terbaru

Makna Sosial dari Ucapan “Selamat Berpuasa”

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Beberapa hari sebelum Ramadhan dimulai, pesan-pesan singkat mulai bermunculan di berbagai percakapan digital. Di grup keluarga, seseorang menulis, “Selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin”. Di media sosial, orang mengunggah gambar bertema Ramadhan dengan ucapan yang serupa. Di kantor, rekan kerja yang beragama berbeda juga ikut mengatakan, “Selamat berpuasa”. Kalimat itu sangat sederhana. Hanya dua kata: selamat berpuasa. Tapi dalam kehidupan sosial, ucapan sederhana seperti ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar rangkaian kata. Dalam perspektif interaksi simbolik George Herbert Mead, kehidupan sosial manusia dibangun melalui pertukaran simbol yang memiliki makna bersama. Bahasa adalah salah satu simbol paling penting dalam proses ini. Melalui kata-kata, manusia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun hubungan sosial, mengakui identitas, dan menegaskan posisi dirinya dalam suat...

Puasa dan Pembentukan Diri (Self)

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Suatu sore jelang berbuka, seorang mahasiswa sedang berdiri tepat depan warung kecil di pinggir jalan. Ia terlihat ragu-ragu. Di depannya tersedia berbagai minuman dingin yang tampak menyegarkan setelah seharian berpuasa. Ia menatap jam di ponselnya. Waktu maghrib masih sekitar dua jam lagi. Tidak ada orang yang memperhatikan apakah ia akan minum sekarang atau menunggu beberapa saat lagi. Namun akhirnya ia menghela napas dan menutup kembali botol minuman yang sempat ia buka. Keputusan kecil itu tampak sederhana. Tetapi sesungguhnya di sanalah proses penting sedang terjadi. Seseorang sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri. Dalam perspektif interaksi simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead, diri manusia ( self ) tidak terbentuk secara otomatis sejak lahir. Diri berkembang melalui proses interaksi sosial. Terbentuk melalui cara seseorang memahami harapan orang lain dan menafsirkan makna dari tindakan-tindakannya sendiri....

Eksklusivitas dan Inklusivitas di Bulan Suci

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Bulan suci Ramadhan sering dipahami sebagai momentum spiritual yang memperkuat nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian sosial. Namun, jika dilihat melalui perspektif teori identitas sosial, pengalaman kolektif selama Ramadhan juga dapat memperlihatkan dinamika pembentukan batas-batas kelompok dalam masyarakat. Seperti ynng telah dijelaskan pada dua esai sebelumnya, Teori Identitas Sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel menjelaskan bagaimana individu cenderung mengategorikan dirinya dan orang lain ke dalam kelompok tertentu. Lebih jauh, identifikasi tersebut kemudian membentuk pola hubungan antara ingroup (kelompok dalam) dan outgroup (kelompok luar). Dalam konteks Ramadhan, dinamika ini dapat memunculkan potensi eksklusivitas sekaligus membuka peluang bagi praktik inklusivitas sosial. Dalam masyarakat Muslim, Ramadhan menjadi salah satu simbol kuat yang memperkuat identitas kolektif tersebut. Praktik seperti puasa, shala...

Puasa dan Sinkronisasi Sosial

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Pada sebagian besar waktu dalam kehidupan modern, manusia hidup dalam gerak dan pengalaman fisik yang berbeda-beda. Ada yang sarapan pagi, ada yang tidak pernah sarapan. Ada yang makan siang cepat di sela pekerjaan, ada yang makan larut malam. Jam kerja, gaya hidup, dan kebiasaan makan sangat beragam. Tubuh manusia mengikuti jadwalnya masing-masing. Namun ketika Ramadhan tiba, secara tiba-tiba, jutaan orang menjalani ritme tubuh yang sama. Mereka bangun sebelum fajar untuk sahur. Mereka menahan lapar sepanjang hari. Mereka menunggu waktu berbuka hampir pada saat yang sama. Selama satu bulan, pengalaman fisik ini dijalani secara serentak oleh komunitas yang sangat luas. Hal ini menarik untuk dilirik karena menjadi salah satu dimensi sosial yang sering tidak disadari. Dalam teori identitas sosial Henri Tajfel, rasa kebersamaan dalam sebuah kelompok tidak hanya muncul dari keyakinan yang sama, tetapi juga dari pengalaman yang dibagi bersama. Keti...

Ramadhan dan Identitas Kolektif Muslim

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Ada sesuatu yang berubah dalam kehidupan sosial umat Islam ketika bulan Ramadhan. Jam makan bergeser, aktivitas keseharian menyesuaikan waktu berbuka dan sahur, masjid menjadi lebih ramai. Dan percakapan sehari-hari juga dipenuhi ungkapan seperti: “sudah berbuka?” atau “tarawih di mana malam ini?”. Bahkan di ruang publik yang sekuler sekalipun, suasana Ramadhan terasa sebagai pengalaman bersama. Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya praktik ibadah individual, tetapi juga pengalaman sosial yang membentuk identitas kolektif. Dalam teori identitas sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel, manusia memahami dirinya tidak hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari kelompok tertentu. Identitas sosial terbentuk ketika seseorang merasa menjadi anggota suatu komunitas. Mungkin agama, bangsa, atau kelompok budaya. Di sana mereka berbagi simbol, nilai, serta praktik yang sama dengan anggota lain. Ramadhan menjadi salah satu m...

Spiritualitas di Era Pencitraan

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Pada suatu sore di bulan Ramadhan, seorang pemuda berdiri di depan seorang penjual makanan kecil di pinggir jalan. Ia membeli beberapa bungkus takjil, lalu memberikannya kepada seorang pengemis tua yang duduk di dekat trotoar. Adegan itu sebenarnya sederhana. Seseorang berbagi makanan dengan orang lain. Tetapi sebelum makanan itu berpindah tangan, seorang temannya sudah lebih dulu mengangkat ponsel dan merekam momen tersebut. Beberapa jam kemudian, video itu muncul di media sosial. Musik latar yang menyentuh ditambahkan. Tulisan “berbagi di bulan suci” muncul di layar. Komentar pun berdatangan. Ada yang terharu, ada yang memuji, ada pula yang membagikannya kembali. Kisah seperti ini semakin sering kita temui di era media digital. Banyak tindakan kebaikan tidak hanya dilakukan, tetapi juga ditampilkan. Kedermawanan, doa, tangis haru, bahkan momen ibadah sering hadir sebagai bagian dari narasi visual yang dibagikan kepada publik. *** ...