Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Pada pembahasan sebelumnya puasa dipahami sebagai proses transformasi psikologis yang terjadi melalui paparan pesan dan pengalaman selama Ramadhan. Esai kali ini akan melihat bagaimana perubahan tersebut sebenarnya bekerja sebagai proses persuasi. Perubahan sikap tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui mekanisme komunikasi yang secara perlahan memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak. Dalam konteks ini, Ramadhan dapat dilihat bukan hanya sebagai pengalaman spiritual, tetapi juga sebagai proses persuasi yang berlangsung secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kajian psikologi komunikasi, perspektif ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Carl Hovland yang meneliti bagaimana pesan dapat mengubah sikap manusia. Hovland menunjukkan bahwa persuasi tidak hanya bergantung pada isi pesan, tetapi juga pada sumber pesan, cara penyampaian, dan kondisi audiens. Jika ketiga unsur ini bekerja secara efektif, maka kemungkinan peru...
Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Ramadhan, membuat banyak orang memiliki harapan yang hampir sama, mereka ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Ada yang berharap lebih sabar, lebih mampu menahan emosi, lebih disiplin dalam ibadah, atau lebih peduli terhadap orang lain. Harapan-harapan ini menunjukkan bahwa puasa tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai proses perubahan diri. Pertanyaaannya, perubahan seperti apa sebenarnya yang terjadi selama Ramadhan? Apakah puasa benar-benar mampu mengubah sikap dan perilaku manusia? Mari kita melihatnya melalui perspektif psikologi komunikasi, khususnya teori perubahan sikap yang dikembangkan oleh Carl Hovland. Dalam penelitiannya tentang komunikasi persuasif, Hovland menjelaskan bahwa perubahan sikap manusia sering terjadi melalui proses komunikasi yang berulang, di mana pesan-pesan tertentu secara terus-menerus memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Selama satu Ramadhan penuh, individu ...