Oleh Hamdan eSA Jika kita coba bertanya, apa komoditas paling laris dalam industri sepak bola? Mungkin sebagian besar orang akan menjawab si bola bundar. Jawaban itu memang terdengar masuk akal, sebab tanpa bola, pertandingan tidak akan pernah dimulai Tapi justru di situlah jebakannya. Kita terlalu sering melihat sepak bola dari dalam lapangan, padahal industri sepak bola sudah lama berpindah ke luar stadion. Di sana, yang diperjualbelikan bukan lagi sekadar permainan, melainkan perhatian, citra, emosi, dan identitas. Bayangkan sebuah pertandingan biasa dengan bola yang sama, aturan yang sama, dan stadion yang sama, tetapi tanpa Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Bandingkan dengan pertandingan yang menghadirkan salah satu dari keduanya. Mana yang lebih banyak ditonton? Mana yang lebih ramai diperbincangkan? Mana yang lebih mahal harga hak siarnya? Mana yang membuat sponsor rela mengeluarkan miliaran rupiah? Jawabannya hampir pasti sama. Yang dijual bukan bolanya, melainkan figur yang...
Oleh: Hamdan eSA Bagi banyak orang, kalimat “rezeki sudah diatur oleh Tuhan” telah menjadi keyakinan dan pegangan hidup yang memberikan ketenangan. Keyakinan ini menanamkan rasa optimis bahwa setiap manusia yang lahir ke bumi sudah dijamin pemenuhan kebutuhan dasarnya oleh Sang Pencipta. Dalam perkembangannya, ketenangan spiritual ini dapat tergoyahkan ketika berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa kehidupan masyarakat berada di bawah kendali pemerintahan –jika tidak ingin disebut kekuasaan– yang korup. Ketika sistem pemerintahan tidak lagi berpihak pada rakyat, tindakan menghalangi rezeki warga negara bukan lagi sekadar soal oknum pejabat yang mencuri uang (korupsi). Bentuknya meluas menjadi kebijakan yang tidak adil, hukum yang tajam ke bawah, hingga penyempitan akses ekonomi bagi rakyat kecil. Pada titik itu, pertanyaan besar muncul menginterupsi. Bagaimana seseorang bisa tetap percaya pada takdir rejeki dari keadilan Tuhan jika seluruh sistem di dunia nyata dirancang untuk me...