Postingan

Menampilkan postingan dari 2008

waktu meneror

Cerpenku “Beritahulah aku tentang waktu!” “Waktu? Waktu hanyalah siang, lalu malam, dan pergantiannya. Di antara itu ada subuh dan pagi, ada sore dan petang. Begitu seterusnya; sehari, seminggu, sebulan, setahun, seabad, sezaman, dan sejarah”. Mendapat jawaban, dengan wajah tanpa reaksi, penanya segera saja berterima kasih dan pergi berlalu. Menghilang dalam kesibukan pagi kota. Hilang seperti tanpa waktu. Sementara orang yang ia tanya tinggal melongok dengan mulut ternganga diganjal rasa aneh. Aneh! Tapi kemudian ia belok juga ke kantornya. Ia seorang karyawan, orang kantoran, budak atau mungkin juga majikan sang waktu. Peduli amat. Mungkin yang bertanya tadi seorang supervisior publik di kantor ini, pikirnya. Mungkin dengan cara begitu; menyindir tentang waktu, ia bermaksud menegur atau membina karyawan yang kurang disiplin. Ah, jika benar, itu hanya sebatas cara dan strategi yang sedikit halus, yang berarti juga muslihat. Benar! Muslihat! Manajemen kan juga muslihat. Siapa yang bisa...

kampung dalam shalatku

Gambar
Cerpenku “Allahu akbar Allahu akbar! …” Lafaz-lafaz iqamat dari sebuah mushallah kecil rumah sakit itu mengawali shalat jama’ah Maghrib. Aku dan dua teman terperangah dengan waktu yang terasa semakin cepat melalui menara mungil sebuah mushallah. Lafaz dari speaker menara betul-betul telah mendapatkan otoritasnya. Seperti di tempat lain, dari menara-menara masjid yang berlimpah, speaker masjid juga telah mendapatkan otoritas yang luar biasa, dari dan untuk sebagian ummat Islam. Tapi sebenarnya kini, apalagi di kota-kota terbilang maju, lafaz-lafaz dari speaker masjid lebih berfungsi sebagai klakson yang sengaja dibunyikan untuk meminta sedikit peluang lewat. Ya, semacam interupsi jalanan. “Ash-shalatu jaami’ah rahimakumullah! Luruskan shaf dan rapatkan!” Diskusi kami dibuatnya terputus, diskusi yang kami sendiri sudah lupa awal dari mana dan untuk apa, diskusi tentang birokrasi dinegeri ini. Birokrasi kacau, untuk tidak menyebut hancur. Hampir setengah jam ngobrol kami be...

BINTANG KECIL; SEPI

hamdan tuhan yang menyiapkan bijian mentari bulan dan bintang untuk memberi cahaya jika engkau izinkan sempatkan aku mengembarai sepi di belantara yang gila ini cukuplah aku sebiji bintang kecil yang mengedipkan sunyi pada gulitanya malam hadirnya tidak mengusik mentari bulan gemintang lainnya tapi secukup membantu benderangnya malam kata bintang kecil; “tidak semua kita harus menjadi mentari atau bulan” bintang kecil tak pernah menanggal lepas kedip kemuning dan senyum mungil sepinya atau menenteng bonceng pergi untuk sekedar mencicipi rasa cakrawala cahaya bintang kecil sepi tasyakur dan ikhlas dengan keadaannya; diselimut gelap dicibir kabut diejek mendung disambar petir dipadam siang dirayu bulan ia tetap bintang kecil kedip kemuning senyum mungil sepinya tak perlu risau ia akan selalu trima dan beri senyum dalam zikir kerlip bintang kecil sepi; hanya yang mendekatnya yang dapat melihatnya besar :seperti juga tuhan cahaya kemuliaan; tak terbatas ruang waktu yang berubah tak ada leb...

KASIHAN JUGA AKU

hamdan kasihan juga aku kepada senyum dimana ia menjadi ladang untuk menanam benih bahagia mengapa harus bebani senyum sepenuhnya dengan bahagia sedang ia juga dapat rekah di padang luka? kasihan juga aku kepada bahagia dimana ia menjadi ladang untuk menanam benih senyum mengapa harus bebani bahagia sepenuhnya dengan senyum sedang ia juga dapat rekah di padang duka? Makassar, 07 maret 2008

DONGI-DONGI MERPATI

Puisi Rismayani Kelas VII3 MTsN Mangempang Kab. Barru ditulis dalam bahasa bugis di Barru, Rabu 20 Februari 2008 engka dongi-dongi leppei pole saranna engka ana’-ana’ natikkengngi dongi-dongie naolliwi sibawanna nalao peddiriwi dongi-dongie nappa naleppessengi ri lalengnge dongi-dongi merpati maddarai ajena engka ana’-ana’ makessingnge natikkengngi natiwi lao bolana nappa naburai ajena pajani ajena nappa naleppesengi dongi-dongi merpati luttui mabela laoni siba punnana terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh hamdan, di Makassar, Minggu 24 Februari 2008 BURUNG MERPATI seekor merpati lepas dari sarang seorang anak menangkapnya pergi dengan mengajak teman, menyakiti sang merpati dilepas ia di jalan sang merpati kaki berdarah seorang anak berhati mulia menangkapnya ajak ke rumah mengobat luka kaki sembuh lalu dilepas sang merpati kini terbang jauh pergi bersama belai kasih alamnya

SENJA YANG LEWAT

Gambar
puisi hamdan mendung yang menutup senja slalu saja mengirim dingin lewat sepoian anginnya kau tau Alisa? aku benci suasana itu mendung yang menutup senja slalu saja mendesak malam ketika siang masih enggan berakhir kau tau Alisa? aku pernah tertipu olehnya mendung yang menutup senja slalu saja memaksa para unggas hentikan nyanyi merdunya padahal saat itu Alisa aku sedang menyiapkan musik iringan untuk mereka mendung yang menutup senja kali ini datang lagi di depanku menggelapkan lalu mengipas dedaun yang mestinya masih terlihat hijau dan jendela tertutup lebih awal kau tau Alisa? aku benci suasana itu karena gelisahku selalu muncul olehnya; "mendung yang menutup senja" makassar, 26 november 2007

SUARA

Oleh: Hamdan Mullah telah bersumpah untuk tidak meminjamkan keledainya kepada siapa pun. Ketika sore, seorang kawan datang ke rumahnya untuk meminjam keledainya. Mullah berkata keledainya tak ada di rumah. Tetapi saat itu pula keledai itu, yang diikat di belakang rumah, tiba-tiba mulai bersuara. "Katamu keledai itu tak ada di sini. Kalau begitu itu suara apa?" tanya si kawan. "Aku heran padamu," kata Mullah. "Setelah empat puluh tahun bersahabat, kamu masih tidak percaya perkataanku, dan bahkan kamu lebih mempercayai suara keledai." Di republik ini hanya ada satu hak yang wajib (bedakan dengan boleh) bagi warga negara untuk mendapatkannya. Sementara hak-hak lainnya masih saja terus dirampas, baik separuh-separuh atau sepenuhnya, sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Hak yang wajib (dipaksakan) itu adalah hak suara. Dan tentunya hak tersebut hanya diberikan pada saat PEMILU, yang disuguhkan dengan sentuhan kata indah; wajib pilih. Hak suara dan wajib pili...

AKU BARU MENGERTI

segala puji Allah yang mengeluarkan bunyi dari getar tanpa memisahkan keduanya aku mengerti kasih ketika cahaya mentari mengedip mataku dari butiran embun selimut daun dia telah mengirimku pagi tuk belajar mengawali hari dengan basmalah gerak aku kemana mencari ruang sembunyi bahkan wajahmu menjadi ruang itu ruang-ruang yang menyatu tanpa batas ah… rekah senyummu menyekapku melampaui waktu aku kemana mencari ruang sembunyi bahkan wajahmu menjadi bunyi suara tanpa bunyi tanpa suara ah… indah tawamu sayap rupanya terbangkan aku lampaui jingga pagi aku mengerti mentari sebagai ungkapan salam tuk belajar mengawali hari dengan basmalah getar segala puji Allah yang menyusun getar tanpa bunyi seperti rasa tanpa dengar Makassar, 02 februari 2008

AHAI…

segala puji lagi maha suci Allah yang menguasai bunyi dan gerak ahai… tuhan rupanya sengaja membuat dunia dari kualita-kualita tak sempurna seperti bumi yang berselimut air kunang-kunang tak berarti tanpa malam dan kedip kemuningnya bagaimana aku dapat mengundang pipit tanpa mengajak serta siul yang ia lagukan sambil melirik lompat pada ayun ranting sepoian angin? aku mengunjungi ruang jism kualita-kualita itu adalah tempat dimana al-jamil menitip sedikit bayang wajahnya untuk menjadi zikir bagi siapa saja yang tamasya di dalamnya yang fana adalah kualita al-jamil juga suci seperti yang baqa mengapa membuangnya sedikitpun sedang ia dapat dikumpul satu-satu sebagai menghitung butiran tahlil yang fana adalah kualita ilahi dimana setiap ruang eksistennya al-malik al-kudduus selalu menyapa dengan mewangi senyum al-rahim melampaui kesturi dalam mimpi pezuhud segala puji lagi maha suci Allah yang menguasai bunyi dan gerak makassar, 02 februari 2008.

hari ini apa?

hari kita adalah amarah dimana anak-anak manusia mengembara memikul-mikul dendamnya hingga melupakan kembali kampung nurani sendiri yang dahulu digantung di atas rembulan hari kita adalah api dimana anak-anak manusia lahap menelan matahari hingga jiwa-jiwa jadi kemarau kering tandus terbakar menghanguskan sungai-sungai nurani, dan api menjadi hitam hari kita adalah kebencian dimana anak-anak manusia mencipta sejuta tembang dengan sejuta syair hitam yang indah: bersama menabur genderang sambil menyanyikan lagu perang “mari, mari menanam amarah sirami dengan api dendam dan benci maju, maju menangkan sejarah bahwa kita memang berani mati” hari kita adalah perang dimana anak-anak- manusia membuat sungai dari air mata yang dibanjiri oleh darahnya; kematian lebih penting dari kehidupan di sini, kita bukan orang mati melainkan bangkai-bangkai busuk hari kita adalah darah dimana anak-anak manusia diteguk darahnya oleh bumi hingga mual dan mabuk: di sini kehidupan menjad...

in-door-nesia

door! jika kita berani berperang atas nama tuhan lalu atas nama siapa lagi kita berani berdamai atas nama indonesia? atas nama keberanian? door! bangsa ini memang sudah berani menjual darah dan nyawanya dengan harga murah sudah berani membuat neraka dan merobohkan sorga bangsa ini lalu menjadi darah neraka; bau amis kematian door! sedangkan dahulu ketika nietzche bersama teman-temannya telah membunuh tuhan aku melihat indonesia masih sempat mencebur wajahnya berenang-renang ke kedalaman sinar bulan cahaya bintang-bintang; bahkan menimang dan memeluknya, erat door! masih terdengar indah suara anak-anak dari bilik sekolahan: “ini budi dan wati mereka pergi sekolah budi-wati anak pintar dan rajin membantu ibu” door! masih terdengar khusyuk kidung-kidung suci azan dan zikir dari menara-menara allah haleluya! subhanallah! door! anak-anak itu kini membungkus tuhan dengan merah putih di kepala door! pagi, semoga datang membawa mimpi tentang indosesia tanpa peluru sungguminasa, 09 februari 200...

kenapa?

Karena kita hidup dari: pajak pelacuran harga tanda tangan harga pembodohan harga tarian bunga luar taman mahalnya kepalsuan anggaran politik belanja para pemabuk pajak pinggir laut pajak pinggir pantat penjualan nama rakyat pajak identitas pajak orang stress harga nenek moyang hutan yang hilang kemaluan yang kecil keringat darah, hitam harga air mata karena kita baru belajar makan dan hafal undang-undang karena kita masih bisa: lari…! karena kita masih bisa bilang: “saudara-saudara sekalian mohon maaf atas segala kesalahan lalu kini dan nanti” karena kita telah lupa pada Tuhan Makassar, 12 Agustus 1998

dari kehendak

DARI KEHENDAK YANG TERTINDAS KE RADIKALISME HASRAT Hal yang cukup serius menjadi wacana sepanjang study tentang manusia terutama dalam dunia filsafat dan theologi adalah, gagasan tentang kebebasan manusia. Gagasan ini mengalir indah dan menarik perhatian setiap orang hingga mereka mencebur diri lalu hanyut di dalamnya. Dari mana dan bagaimana gagasan ini muncul serta berkembang sedemikian baik hampir tanpa interupsi dalam sejarah manusia ? Dari Voluntarisme ke Tuhan Mati Gagasan kebebasan setidaknya dikemukakan lebih awal oleh bangsa Iblis kepada manusia dalam kasus “Surga” --jika ini dianggap sebagai bagian dari sejarah manusia. Saat itulah pertama kali manusia mendemonstrasikan kebebasannya secara sempurna. Saat itu manusia pertama kali memfungsikan kehendak (voluntas, will, iradah)–nya. Pertama kali meninggalkan (mematikan?) Tuhan dalam dirinya, dan pertama kali mencairkan hasrat (desire, hawa’)–nya. Manusia menerima dan melaksanakan gagasan kebebasan dari Iblis untuk membongkar kem...

Penglihatan

Penglihatan Dari puncak yang sepinya jingga, aku dan matahari melihat hamparan bumi dalam sorotan yang menangkap seluruh wajahnya. “Bumi ini harus dijaga”, kataku layaknya Descartes dalam sorotan cogito ergo sum-nya. “Ah, bukan! Aku harus menjaga diriku terhadap bumi”. Tak satu pun manusia yang terlahir normal, tidak mengetahui cahaya (light, nur). Ia yang membuat mata dapat melihat. Begitu hebatnya, cahaya seperti menghipnotis manusia untuk menjadikannya sebagai kebutuhan penting dan dicari. Sebaliknya menghipnotis manusia membenci dan karenanya menghindari kegelapan. Sehingga tidak seorang pun yang mengetahui cahaya tetapi tidak memahami betap pentingnya cahaya.. Dalam cara pandang oposisi-binner (gelap-terang); cahaya selalu menjadi pahlawan yang mengusir kegelapan. Jika kegelapan mengalahkan terang, maka terang menjadi sesuatu yang dicari untuk segera membunuh kegelapan. Manusiakah terhipnotis cahaya atau manusiakah yang telah menuhankan cahaya? Cahaya dan penglihatan memiliki kesa...