Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2008

hari ini apa?

hari kita adalah amarah dimana anak-anak manusia mengembara memikul-mikul dendamnya hingga melupakan kembali kampung nurani sendiri yang dahulu digantung di atas rembulan hari kita adalah api dimana anak-anak manusia lahap menelan matahari hingga jiwa-jiwa jadi kemarau kering tandus terbakar menghanguskan sungai-sungai nurani, dan api menjadi hitam hari kita adalah kebencian dimana anak-anak manusia mencipta sejuta tembang dengan sejuta syair hitam yang indah: bersama menabur genderang sambil menyanyikan lagu perang “mari, mari menanam amarah sirami dengan api dendam dan benci maju, maju menangkan sejarah bahwa kita memang berani mati” hari kita adalah perang dimana anak-anak- manusia membuat sungai dari air mata yang dibanjiri oleh darahnya; kematian lebih penting dari kehidupan di sini, kita bukan orang mati melainkan bangkai-bangkai busuk hari kita adalah darah dimana anak-anak manusia diteguk darahnya oleh bumi hingga mual dan mabuk: di sini kehidupan menjad...

in-door-nesia

door! jika kita berani berperang atas nama tuhan lalu atas nama siapa lagi kita berani berdamai atas nama indonesia? atas nama keberanian? door! bangsa ini memang sudah berani menjual darah dan nyawanya dengan harga murah sudah berani membuat neraka dan merobohkan sorga bangsa ini lalu menjadi darah neraka; bau amis kematian door! sedangkan dahulu ketika nietzche bersama teman-temannya telah membunuh tuhan aku melihat indonesia masih sempat mencebur wajahnya berenang-renang ke kedalaman sinar bulan cahaya bintang-bintang; bahkan menimang dan memeluknya, erat door! masih terdengar indah suara anak-anak dari bilik sekolahan: “ini budi dan wati mereka pergi sekolah budi-wati anak pintar dan rajin membantu ibu” door! masih terdengar khusyuk kidung-kidung suci azan dan zikir dari menara-menara allah haleluya! subhanallah! door! anak-anak itu kini membungkus tuhan dengan merah putih di kepala door! pagi, semoga datang membawa mimpi tentang indosesia tanpa peluru sungguminasa, 09 februari 200...

kenapa?

Karena kita hidup dari: pajak pelacuran harga tanda tangan harga pembodohan harga tarian bunga luar taman mahalnya kepalsuan anggaran politik belanja para pemabuk pajak pinggir laut pajak pinggir pantat penjualan nama rakyat pajak identitas pajak orang stress harga nenek moyang hutan yang hilang kemaluan yang kecil keringat darah, hitam harga air mata karena kita baru belajar makan dan hafal undang-undang karena kita masih bisa: lari…! karena kita masih bisa bilang: “saudara-saudara sekalian mohon maaf atas segala kesalahan lalu kini dan nanti” karena kita telah lupa pada Tuhan Makassar, 12 Agustus 1998

dari kehendak

DARI KEHENDAK YANG TERTINDAS KE RADIKALISME HASRAT Hal yang cukup serius menjadi wacana sepanjang study tentang manusia terutama dalam dunia filsafat dan theologi adalah, gagasan tentang kebebasan manusia. Gagasan ini mengalir indah dan menarik perhatian setiap orang hingga mereka mencebur diri lalu hanyut di dalamnya. Dari mana dan bagaimana gagasan ini muncul serta berkembang sedemikian baik hampir tanpa interupsi dalam sejarah manusia ? Dari Voluntarisme ke Tuhan Mati Gagasan kebebasan setidaknya dikemukakan lebih awal oleh bangsa Iblis kepada manusia dalam kasus “Surga” --jika ini dianggap sebagai bagian dari sejarah manusia. Saat itulah pertama kali manusia mendemonstrasikan kebebasannya secara sempurna. Saat itu manusia pertama kali memfungsikan kehendak (voluntas, will, iradah)–nya. Pertama kali meninggalkan (mematikan?) Tuhan dalam dirinya, dan pertama kali mencairkan hasrat (desire, hawa’)–nya. Manusia menerima dan melaksanakan gagasan kebebasan dari Iblis untuk membongkar kem...

Penglihatan

Penglihatan Dari puncak yang sepinya jingga, aku dan matahari melihat hamparan bumi dalam sorotan yang menangkap seluruh wajahnya. “Bumi ini harus dijaga”, kataku layaknya Descartes dalam sorotan cogito ergo sum-nya. “Ah, bukan! Aku harus menjaga diriku terhadap bumi”. Tak satu pun manusia yang terlahir normal, tidak mengetahui cahaya (light, nur). Ia yang membuat mata dapat melihat. Begitu hebatnya, cahaya seperti menghipnotis manusia untuk menjadikannya sebagai kebutuhan penting dan dicari. Sebaliknya menghipnotis manusia membenci dan karenanya menghindari kegelapan. Sehingga tidak seorang pun yang mengetahui cahaya tetapi tidak memahami betap pentingnya cahaya.. Dalam cara pandang oposisi-binner (gelap-terang); cahaya selalu menjadi pahlawan yang mengusir kegelapan. Jika kegelapan mengalahkan terang, maka terang menjadi sesuatu yang dicari untuk segera membunuh kegelapan. Manusiakah terhipnotis cahaya atau manusiakah yang telah menuhankan cahaya? Cahaya dan penglihatan memiliki kesa...