Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

senyum luna

Gambar
cerpen hamdan Jam delapan malam, baru saja Pak Imran hendak menutup bengkel advertisingnya, tiba-tiba ia kedatangan tamu. Empat orang ibu muda tergesa memesan papan iklan ukuran mini dua lembar, terbuat dari bahan apa saja yang penting tahan lama dari terpaan panas dan hujan, pakai lampu penerang, dan dapat selesai malam itu juga. javascript:void(0) “Bisa saja Bu Leha, tapi ongkosnya dobel.” “Ya sudah, mau dobel, ganda campur, single, yang penting selesai malam ini sesuai pesanan kami. Berapa ongkosnya?” “JiTe”, jawab Pak Imran setelah mengangkat dua jarinya. “OK, dil! Aku tambah ongkos pasangnya,” tegas Bu Leha. Tergesa sekali ibu-ibu itu memesan, bayar kontan, ngomong mereka seperti sedang menjalani masa emerjensi, tanpa senyum, dan mata tampak sedang memendam marah. Pak Imran tidak peduli. Lebih baik pikir orderannya; kerja lembur ongkos lipat ganda, sementara kerjanya cukup mudah dengan peralatan yang telah ia miliki. Bayangan Pak Imran, jika dalam seminggu saja pesanan sem...

kuntum sepatu dea

cerpen hamdan Rerimbun pinus yang biasanya mengalunkan seruling malaikat bila tertiup angin, saat itu diam tak bergerak meskipun tetap saja memancarkan hijau bersama aneka pohonan yang tertata indah memenuhi sepanjang sisi bukit kota. Tak berapa lama, kawanan kabut berlari dari puncak Bawakaraeng dan Lompobattang, turun menyelimuti seluruh kota, bukitan dan rerimbun pohonan. Sekejap. Lalu kota itu berada di atas awan. Kota suatu masa, dimana waktu berjalan tanpa siang, petang dan malam. Hanya ada subuh. Ya, mentari dan rembulan juga terdiam padam. Sore menyubuh di bawah teras sebuah penginapan. Aku pun ikut diam, duduk memandangi hijau rimbunan pohon ketika orang-orang di sekitarku ramai membincang masalah-masalah mereka dengan santai. Masalah yang tak pernah tuntas; tentang Tuhan. Sesekali aku menjawab bila mereka bertanya, atau tertawa mendengar cerita mereka dan akhirnya aku sama sekali tak menghiraukan semuanya. Aku memilih masuk dalam keheningan selimut kabut, bermain diam bersama...

kupu-kupu kebunku

Gambar
cerpen hamdan Hatiku benar-benar jatuh tak berdaya, terpikat pada kupu-kupu sejak pertama kali melihat seekor di kebunku. Aku tidak membenci kupu-kupu, bahkan sering melihatnya di banyak tempat. Tapi lain dengan yang satu ini. Ia begitu saja mengalir dengan cepatnya menembus lorong-lorong saraf, menampik akal sehat, melewatinya dan langsung memenuhi ruang batinku. Kedatangan yang tiba-tiba itu tentu saja mendebarkan hati dengan sangat kencang. Aku seperti mendapat serangan pasukan Archilles yang keluar dari Kuda Troy setelah menyelinap masuk ke istana. Lalu perlahan pula ia mengalir ke ruang imajinasiku, memenuhinya dan bahkan membungkusnya dengan beludru sayapnya. Ah… getaran itu, detaknya semakin kencang. Lebih kencang dari serangan sinar matahari terhadap subuh. Apa yang telah terjadi? Aku tak pernah berhasil setiap kali mencoba menyusun kata untuk menjelaskan. Waktu itu aku sedang di rumah, tepatnya di belakang kamarku menikmati pagi yang menyisahkan kesejukan hujan yang d...

tantang kerbau itu

Gambar
cerpen hamdan Masih sangat pagi. Bahkan burung-burung baru satu dua kali mengicau. Tapi pak Soboyo sudah teriak meraung. Wajahnya sekejap memerah dialiri air mata. Suaranya pun seolah memecah sejuk-sepi dusun, menggetarkan rumahnya yang telah miring dimakan waktu. Di tiang pintu kandang, ia tersandar duduk tak berdaya. Tanah becek oleh kotoran kerbau menyelup pantatnya. Tatapan kosong menerawang. Setelah cukup lama, raungan itu melemah sebagai suara tangis biasa. Ia baru saja mengetahui bila dua ekor kerbaunya lenyap dari kandang di belakang rumah. Warga sekitar terbangun dan berdatangan menuju kandang. Beberapa orang berusaha mengangkat pak Soboyo, tetapi ia seperti terikat erat di tiang. Seorang yang lain berusaha membujuk menyabarkan hatinya. Ia tak bergerak sedikit pun. Hanya tangis yang terus terdengar. Beberapa yang lain mencoba mengikuti jejak kerbau. Agak sulit menandai bekas kuku kerbau karena jalan berbatu dan berumput. Apalagi semalam hujan cukup deras. Sedikit p...

ikan asin ayah

Gambar
cerpen hamdan Angin yang datang pagi itu terasa cukup dingin meskipun hembusannya tidak terlalu kencang. Dari arah laut, ia telah melewati dua-tiga bukit yang dipenuhi rimbun ragam pohonan, hingga hembusannya telah melemah ketika masuk ke jendela kamarku, jendela tanpa gorden, apalagi daun penutup. Angin seperti ini biasa bagi kami yang hidup di wilayah pesisir meski terhitung agak jauh dari bibir pantai. Dengan angin itu, sebenarnya aku masih enggan melepas sarung yang menyelimuti badan, tetapi warna pagi serta kicauan burung seolah mendesakku untuk bangun melawan dingin dan melakukan aktivitas rumah. Aku harus membantu ibu, ayah, dan adikku. Serta yang yang lebih penting keceriaan kami setiap hari, apalagi dengan adik kecilku yang semakin lincah berjalan, bermain, tertawa, walau masih menyusu. Aku baru saja terbangun saat di bilik sebelah, adikku masih disusui ibu. Dari jendela, ayah tampak sedang bersiap-siap bekal turun ke laut mencari ikan. Ia akan kembali saat senja menjelang...