Antrian Zakat, Dermawan, dan Negara

 

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
 
Suatu pagi di bulan Ramadhan, Pak Andank sudah berdiri di antrian panjang di depan sebuah masjid besar di kotanya. Matahari belum sepenuhnya terbit, tapi ratusan orang sudah berbaris rapi, sebagian membawa kantong plastik lusuh, sebagian lagi menggandeng anak-anak mereka yang masih mengantuk.
 
Pak Andank bukan orang baru di antrian ini. Sudah lebih dari lima tahun setiap Ramadhan ia datang, berharap mendapat sekarung beras dan sedikit uang dari zakat yang dibagikan. Tahun lalu, ia pulang dengan tangan kosong karena kehabisan jatah. Tahun ini, ia datang lebih pagi.
 
Seorang pemuda berbaju rapi memperhatikannya dari kejauhan. Ia mengenali Pak Andank sebagai tukang becak yang sering mangkal di dekat kantornya. Dengan ragu, ia mendekat dan bertanya, "Pak, tiap tahun saya lihat Bapak di sini. Apa hidup Bapak tidak berubah"?
 
Pak Andank tersenyum, lalu menjawab pelan, "Nak, tiap tahun orang-orang baik selalu ada yang memberi zakat. Tapi tiap tahun juga, orang seperti saya selalu ada yang mengantri. Saya tidak tahu apakah ini tanda banyak orang baik, atau tanda bahwa negara ini belum cukup baik untuk kami".
 
Pemuda itu terdiam. Antrian itu panjang, dan sepertinya tak akan pernah benar-benar habis.
 
***
 
Setiap bulan Ramadhan, fenomena antrian panjang penerima zakat menjadi pemandangan umum di berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat dari berbagai kalangan, terutama mereka yang kurang mampu, rela mengantri berjam-jam di masjid, kantor lembaga amil zakat, atau tempat penyaluran lainnya untuk mendapatkan bantuan zakat. Antrian ini mencerminkan tingginya harapan dan kebutuhan masyarakat terhadap bantuan tersebut.​
 
Sebagai contoh, pada 15 Maret 2025, jatimtimes.com memberitakan sekitar 2.000 hingga 2.500 abang becak dan sopir angkot di Jombang mengantri hingga 2 kilometer untuk menerima paket sembako dan tali asih dari zakat yang dikeluarkan oleh keluarga Bupati Jombang, Warsubi. ​
 
Fenomena serupa, diberitakan akun IG @wecarebangkalanmadura, juga terjadi di Bangkalan, Madura. Pembagian zakat oleh komunitas setempat menarik ribuan warga yang membutuhkan. Tidak main-main, antrian panjang ini bahkan memerlukan kehadiran aparat kepolisian untuk menjaga ketertiban selama proses penyaluran bantuan. ​
 
Pengumpulan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) selama Ramadhan terus meningkat setiap tahunnya. Antaranews.com menuliskan bahwa pada Ramadhan 2024, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI berhasil menghimpun dana ZIS sebesar Rp447,9 miliar, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp430 miliar. Peningkatan ini menunjukkan kepercayaan masyarakat dalam menyalurkan zakat melalui lembaga resmi.​
 
Fenomena antrian ini menggambarkan besarnya jumlah masyarakat yang masih bergantung pada bantuan zakat untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
 
Zakat menjadi salah satu pilar utama dalam praktik kedermawanan umat Islam. Tradisi ini bukan hanya sekadar kewajiban agama, tetapi juga cerminan dari solidaritas sosial yang mengakar kuat dalam budaya masyarakat. Fenomena antrian panjang penerima zakat menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama masih sangat tinggi, terutama di tengah meningkatnya kesenjangan ekonomi. 
 
Dalam Islam, zakat tidak hanya berfungsi sebagai instrumen ibadah, tetapi juga sebagai alat distribusi kekayaan yang bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sosial. Setiap tahunnya, lembaga-lembaga zakat seperti BAZNAS, LAZ, dan berbagai komunitas masyarakat menghimpun serta menyalurkan dana zakat kepada mereka yang membutuhkan.
 
Selain itu, zakat juga menjadi bukti bahwa kedermawanan tidak hanya berasal dari individu kaya, tetapi juga dari komunitas yang sadar akan pentingnya berbagi. Banyak perusahaan, organisasi, bahkan keluarga secara rutin menyalurkan zakat sebagai bagian dari tanggung jawab sosial mereka.
 
Fenomena ini memperlihatkan bahwa dalam kondisi ekonomi yang sulit sekalipun, semangat berbagi tetap tumbuh subur di masyarakat.  Zakat terus menjadi manifestasi nyata dari kepedulian sosial dan kedermawanan umat Islam dalam membangun kesejahteraan bersama.
 
Di balik tingginya kepedulian dan kedermawanan tersebut, muncul pertanyaan besar: bukankah ini justru memperlihatkan adanya ketidakseimbangan struktural dalam sistem ekonomi?
 
Meskipun zakat mencerminkan kedermawanan umat Islam, fenomena antrian panjang penerima zakat juga dapat dilihat sebagai indikator kegagalan negara dalam menjamin kesejahteraan warganya.
 
Seperti telah dituliskan di atas, ribuan hingga jutaan orang berdesakan di berbagai daerah demi mendapatkan bantuan zakat. Pemandangan ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang hidup dalam kondisi rentan, bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
 
Seharusnya, negara berperan sebagai aktor utama dalam menyejahterakan rakyatnya melalui kebijakan ekonomi yang adil dan sistem jaminan sosial yang efektif. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi masih sangat tinggi.
 
Lebih jauh, keberadaan antrian panjang penerima zakat menandakan bahwa negara belum mampu menciptakan sistem yang menjamin kemandirian ekonomi bagi warganya. Banyak dari mereka yang mengantri adalah pekerja sektor informal, buruh harian, atau warga miskin yang seharusnya mendapatkan perlindungan sosial dari negara, bukan sekadar bantuan sesaat dari zakat.
 
Jika negara benar-benar efektif dalam menjalankan kebijakan kesejahteraan, maka zakat seharusnya menjadi pelengkap, bukan penyelamat utama bagi masyarakat miskin. Selama antrian panjang penerima zakat ini masih terjadi setiap tahun, maka zakat justru menjadi bukti bahwa sistem ekonomi dan kebijakan sosial negara masih jauh dari ideal dalam mengentaskan kemiskinan secara struktural.
 
Wallahu a’lam.
 
Madatte Polman, 26 Maret 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

HMTI Unasman Selenggarakan Malam Inagurasi Enc24ption Angkatan 24

Dosen Unasman Memberi Sosialisasi Etika Bermedsos