Bulan Tenggelam Dalam Sumur

 

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Suatu malam di bulan Ramadhan, Hoja sedang berjalan-jalan. Ia melewati sebuah sumur dan membuatnya ingin menengok ke dalam. Di dalam sumur itu rupanya ia menemukan bulan tenggelam. Ia begitu kaget hingga membuatnya khawatir. “Wah, bulan ini mesti saya selamatkan. Kalau tidak, maka bulan puasa tak akan pernah berakhir”. Gumamnya dalam hati.

Hoja pun berusaha untuk menolong bulan. Akhirnya, ia menemukan seutas tali besar dan kuat. Ia memberi pengait di ujungnya dan segera dilemparkannya ke sumur. Tali itu tersangkut kuat di dasar, dan saat ia tarik sekuat tenaga, Hoja terpental dan terjatuh ke dalam sumur.

Dari dalam sumur, ia melihat bulan sudah berada di langit. Ia pun tersenyum manis. “Untung saja aku bisa menolongmu. Jika saja tadi aku tidak lewat di sumur ini, entah bagaimana nasibmu. Dan kami pun tidak akan dapat berlebaran”. Sambil tersenyum, Hoja merasa bahagia dan bangga sambil memanjat naik.

***

Sering kali dalam kehidupan ini, kita gagal memahami realitas. Kesalahan dalam memahami realitas bukan sekadar kesalahan persepsi individu, tetapi juga berakar pada struktur berpikir, kebiasaan sosial, dan kerangka pengetahuan yang membentuk cara kita memandang dunia.

Salah satu penyebab utama kesalahan dalam memahami realitas adalah mispersepsi. Kecenderungan manusia untuk menganggap representasi sebagai realitas itu sendiri. Manusia lebih percaya pada citra atau simbol dibandingkan dengan realitas yang sebenarnya.

Seseorang merasa telah menjalani puasa dengan baik hanya karena ia telah melakukan ritual lahiriah, tanpa memperhatikan dimensi batiniah dari ibadah tersebut. Kesalehan diukur dari seberapa banyak ibadah yang ditampilkan. Bukan dari transformasi moral dan spiritual yang terjadi di dalam diri.

Persis seperti Hoja yang mengira bulan jatuh ke dalam sumur, orang-orang sering menganggap pantulan (simbol-simbol ibadah) sebagai kenyataan yang sesungguhnya, padahal yang lebih esensial adalah perubahan diri.

Penyebab lainnya adalah, karena ada kerangka pemahaman yang keliru dalam melihat realitas. Bahasa ilmiahnya —jika boleh— disebut kesalahan epistemologi. Seseorang memahami bahwa semua realitas adalah objektif, begitu saja apa adanya. Padahal realitas yang kita temui juga ada yang sifatnya konstruktif. Apa yang kita anggap sebagai “realitas” sering kali merupakan hasil dari proses sosialisasi, mitos, narasi budaya, dan otoritas tertentu.

Seorang yang lebih sering mengunggah ayat-ayat Al-Qur’an di media sosial dianggap lebih shaleh. Padahal dalam keseharian ia mungkin kurang memperhatikan etika sosial, atau apa yang sering disebut sebagai ‘lubang’; lugu-lugu bangs-t. Hal ini dilakukan untuk menciptakan citra dan mensosialisasikan diri sebagai orang shaleh.

Ruang virtual terutama media sosial adalah ruang yang paling jitu mensosialisasikan kashalehan, dan lahirlah realitas keshalehan yang dikonstruksi; realitas hasil edit, realitas framing. Realitas-realitas tersebut akhirnya dipandang sebagai realitas objektif.

Ada pula kebiasaan-kebiasaan yang lahir (dikonstruksi) dari narasi budaya. Ramadhan yang seharusnya mengajarkan kesederhanaan justru dijadikan musim belanja dan konsumsi berlebihan—dan ini dipandang normal serta diterima sebagai sesuatu yang wajar karena konstruksi sosial atau narasi budaya yang telah berlangsung lama.

Kekeliruan juga bisa terjadi karena orang lebih percaya pada simbol-simbol keshalehan daripada substansinya. Misalnya menganggap seseorang lebih beriman hanya karena cara berpakaian dan retorikanya, bukan karena integritas dan akhlaknya. Seringkali seseorang tersentak melihat kenyataan tentang kenalannya, hanya karena ekspektasi sebelumnya yang berlebihan saat awal mengenalnya. Ini bisa jadi korban sosialisasi, korban pada pandangan pertama.

Kesalahan memahami realitas juga sering terjadi karena manusia memiliki bias kognitif, terutama bias konfirmasi—yakni kecenderungan untuk hanya menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan atau sudut pandang yang sudah dimiliki sebelumnya.

Di media sosial mungkin kita cenderung menggeser-geser layar, skip, untuk menghindari postingan atau ceramah dari orang-orang yang kurang sepaham dengan kita. Atau menghindari pendapat dari orang-orang yang bukan kelompok kita, dan lain sebagainya. Bisa juga akhirnya, seseorang hanya mau menerima kebiasaan-kebiasaan lama dan menolak kenyataan baru.

Dalam tradisi filsafat Islam dan tasawuf, kesalahan memahami realitas sering dikaitkan dengan hijab (tirai) yang menutupi kebenaran sejati. Al-Ghazali, misalnya, berbicara tentang bagaimana hawa nafsu, dunia material, dan ilusi sosial dapat menghalangi manusia dari memahami makna spiritual yang lebih dalam.

Ada yang lebih sibuk dengan menyempurnakan ibadah secara formal, tetapi melupakan pembersihan hati dan penyucian jiwa. Yang utama dalam pikirannya dalam Ramadhan adalah, berapa pakaian yang saya harus gunakan selama sebulan ke masjid. Fokus lebih banyak pada apa yang tampak di luar, seperti pakaian Islami dan jumlah amal ibadah, daripada apa yang terjadi di dalam hati dan pikiran.

Akhirnya tulisan ini hendak mengajak kita semua untuk melakukan beberapa hal, untuk tidak menjadi seperti Hoja, yang keliru melihat realitas sesungguhnya, dan merasa benar pada apa yang telah ia lakukan (menolong bulan).

Pertama, jangan hanya mengikuti dan hanyut dalam tren ibadah, tetapi tanyakan pada diri sendiri; apakah ini benar-benar membuat saya lebih dekat dengan Tuhan atau hanya menambah citra saya di publik?

Kedua, jangan terpesona dengan keterpenuhan simbol-simbol semata. Misalnya tidak terpesona dan hanya fokus pada jumlah ayat yang dibaca, tetapi bagaimana ayat-ayat tersebut membentuk karakter dan tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari. Caranya, membaca Al-Qur’an sebaiknya tidak hanya teks arabnya saja, tetapi juga terjemahannya. Tidak mengejar khatamnya, melainkan seberapa paham kita pada ayat-ayat yang sudah kita baca.

Ketiga, dengan cara seperti itu, kita dapat ber-muhasabah alias mengintrospeksi diri; bagaimana puasa ini mengubah saya dan sejauh mana perubahan itu sudah terjadi? Dapatkah perubahan itu bertahan pasca Ramadhan? Sehingga saat idul fitri, sebagai bulan kemenangan, kita bukan sekedar gembira, melainkan juga dapat membuat resolusi diri untuk sebelas bulan ke depan.

Dengan demikian, Ramadhan betul-betul menjadi bulan transformatif, bulan yang mengantar kita pada perubahan baik dari aspek ibadah maupun aspek sosial. Inilah yang dimaksud Allah; semoga (selama puasa sebulan) kamu sekalian mencapai derajat taqwa. La’allakum tattaquun.

Wallahu a’lam.

Banga, 13 Maret 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

HMTI Unasman Selenggarakan Malam Inagurasi Enc24ption Angkatan 24

Dosen Unasman Memberi Sosialisasi Etika Bermedsos