Dasein dan Taqwa: Menafsir Tujuan Puasa Ramadhan
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Dalam suatu moment, Hasan dan Rahmat memutuskan untuk
mendaki gunung bersama. Mereka membawa perbekalan secukupnya dan memulai
perjalanan saat matahari baru saja terbit.
Di tengah perjalanan, Hasan mulai merasa lelah. Ia berhenti
dan berkata, “Mengapa kita harus mendaki? Apa gunanya semua ini”?
Rahmat tersenyum sambil melanjutkan langkahnya. “Kita sudah
memulai perjalanan ini, jadi kita harus menyelesaikannya”, katanya.
Hasan menggeleng. “Tapi siapa yang menentukan bahwa kita
harus mencapai puncak? Bukankah kita hanya mengikuti jejak pendaki sebelumnya
tanpa benar-benar tahu apa yang kita cari”?
Rahmat berhenti sejenak dan menatap ke langit. “Aku tidak
tahu tentang pendaki lain. Aku hanya tahu bahwa aku mendaki karena aku percaya
ada sesuatu yang lebih di atas sana”.
Malam itu, mereka mendirikan tenda di tengah hutan. Angin
berhembus pelan, dan langit bertabur bintang. Hasan duduk termenung,
merenungkan kata-kata sahabatnya. Ia sadar bahwa bukan sekadar puncak yang
penting, tetapi bagaimana ia menjalani perjalanan. Ia belajar dari Rahmat bahwa
hidup bukan hanya tentang keberadaan, tetapi juga tentang kesadaran akan tujuan
yang lebih tinggi.
Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan. Hasan tidak
lagi banyak bertanya, tetapi langkahnya terasa lebih mantap dari sebelumnya.
***
Bayangkan ketika Anda sedang berjalan sendirian di suatu
tempat dan tiba-tiba bertanya: "Siapa saya? Apa tujuan saya di dunia ini?
Mengapa saya hidup? Lalu apakah hewan dan tumbuhan juga menanyakan hal yang
sama”?
Itulah yang dimaksud oleh Martin Heidegger dengan dasein ("ada-di-dunia",
being-in-the-world), dalam artian manusia bukan hanya sekadar “ada” di
dunia layaknya batu, hewan atau pohon, tetapi juga manusia selalu sadar bahwa
dirinya ada, dan ia bisa merenungkan keberadaannya serta mencari makna hidupnya.
Manusia selalu berhadapan dengan kehidupan, membuat pilihan,
dan menghadapi berbagai kemungkinan. Kita tidak bisa hidup tanpa berpikir
tentang diri kita sendiri dan orang lain, tanpa berpikir masa depan dan
bagaimana kita harus bertindak.
Dalam tradisi Islam, konsep taqwa menjadi orientasi
utama dalam memahami keberadaan manusia, yakni sebagai makhluk yang bertanggung
jawab kepada Tuhan. Dengan menelaah hubungan antara dasein dan taqwa,
kita akan mencoba melihat bagaimana kesadaran eksistensial tidak hanya berhenti
pada pemahaman tentang keberadaan, tetapi lebih jauh lagi pada kesadaran
spiritual yang terdalam.
Puasa Ramadhan dalam Islam bertujuan menumbuhkan taqwa,
yaitu kesadaran spiritual yang mendalam terhadap keberadaan Tuhan dan tanggung
jawab manusia di hadapan-Nya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus,
tetapi juga menjadi momentum bagi manusia untuk menghayati keberadaannya dengan
lebih otentik dan mendalam.
Jika ditinjau dari perspektif Heidegger, konsep dasein—kesadaran
akan keberadaan diri—dapat dihubungkan dengan proses refleksi selama menjalankan
ibadah puasa. Ada beberapa konsep utama dasein yang dapat dikaitkan
dengan taqwa sebagai tujuan puasa.
Dasein menekankan kesadaran akan keberadaan manusia,
sedangkan puasa sebagai proses menyadari diri. Kesadaran tentang keberadaan bagi
Heidegger tidak hanya tentang fakta bahwa kita ada, tetapi juga tentang
bagaimana kita memahami diri kita dalam kehidupan. Puasa Ramadhan menjadi proses
latihan kesadaran bagi manusia untuk lebih menghayati keberadaannya dengan cara
menjauh dari pemenuhan instingtif serta mendekatkan diri kepada Tuhan.
Saat berpuasa, seseorang tidak sekadar menahan lapar dan
haus, tetapi juga merenungi siapa dirinya di hadapan Tuhan. Ia menyadari bahwa tujuan
keberadaannya bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan fisik, melainkan juga
untuk mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Dalam perspektif
Heidegger, ini adalah langkah menuju keberadaan yang lebih otentik—hidup dengan
kesadaran penuh atas makna dan tujuan hidup.
Heidegger membedakan antara hidup yang otentik (eigentlichkeit)
dan tidak otentik (uneigentlichkeit). Hidup otentik berarti seseorang
menyadari kebebasannya untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Sedangkan hidup yang tidak otentik terjadi ketika seseorang hanya mengikuti
arus tanpa refleksi mendalam.
Dalam konteks puasa Ramadhan, seseorang dihadapkan pada
pilihan: menjalani puasa dengan kesadaran penuh atau sekadar mengikuti
rutinitas tahunan tanpa pemaknaan. Orang bertakwa berpuasa dengan penuh kesadaran,
memahami bahwa puasa adalah sarana untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada
Allah. Inilah hidup yang otentik. Sebaliknya, orang yang berpuasa hanya karena
kebiasaan tanpa memahami maknanya lebih dalam, sesungguhnya sedang menjalani
keberadaan yang tidak otentik.
Puasa menjadi latihan bagi manusia untuk kembali kepada
dirinya yang sejati—menjalani hidup bukan karena tekanan sosial atau kebiasaan,
tetapi karena kesadaran akan tanggung jawab spiritualnya.
Konsep lain, Heidegger menekankan bahwa kesadaran akan
kematian (Sein-zum-Tode) adalah kunci bagi manusia untuk menjalani hidup
secara lebih bermakna. Dalam Islam, kesadaran ini menjadi bagian dari taqwa—seseorang
yang bertakwa selalu mengingat bahwa hidupnya sementara dan bahwa setiap amal
perbuatannya akan dipertanggungjawabkan.
Puasa Ramadhan adalah waktu refleksi mendalam tentang
keterbatasan hidup. Dengan menahan diri dari makan dan minum, seseorang
menyadari betapa rapuhnya tubuh manusia dan bagaimana segala sesuatu di dunia
ini bersifat fana. Kesadaran ini mengarahkan seseorang untuk lebih fokus pada
kehidupan setelah mati, memperbaiki amal, dan menjalani hidup dengan lebih
bermakna.
Dengan menghubungkan konsep dasein Heidegger dan taqwa
sebagai tujuan puasa Ramadhan, kita dapat melihat bahwa puasa bukan sekadar
ibadah ritual, tetapi juga proses eksistensial yang memperdalam kesadaran
manusia terhadap keberadaannya, relasinya dengan dunia, pilihan hidupnya, dan
keterbatasan hidupnya.
Jika dasein adalah kesadaran tentang keberadaan, maka
taqwa adalah kesadaran tentang keberadaan yang dipertautkan kepada
Allah—sebuah perjalanan menuju keberadaan yang lebih otentik dan bermakna.
Wallahu a’lam.
Madatte Polman, 22 Maret 2025.
Komentar