Dermawan Dadakan dan Manfaat Berkelanjutan

 

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Suatu sore Ramadhan, di sebuah panti asuhan, Aisyah, seorang anak, bertanya kepada pengasuhnya, “Bu, kalau Lebaran sudah lewat, apa masih ada orang yang datang membawa makanan?”

Pengasuh itu terdiam sejenak sebelum tersenyum, meski dalam hatinya ia tahu jawabannya. Setiap tahun, Ramadhan selalu membawa banjir donasi—beras, uang, pakaian, bahkan gadget bekas. Tapi ketika Syawal datang, bantuan itu perlahan menghilang, dan panti kembali harus berjuang sendiri. 

Di tempat lain, seorang tukang becak, Pak Hasan, merenung di pinggir jalan setelah menerima amplop berisi uang dari seorang dermawan. Setiap Ramadhan, ia mendapatkan banyak sedekah, bahkan lebih dari cukup untuk kebutuhan bulan itu. Namun, di bulan-bulan berikutnya, penghasilannya kembali tak menentu, dan orang-orang yang sebelumnya begitu murah hati kini seakan lupa bahwa ia masih ada. 

***

Ajaran Islam memang menekankan pentingnya berbagi di bulan suci. Ramadhan dianggap sebagai waktu yang penuh berkah, di mana pahala dilipatgandakan dan amal baik mendapatkan balasan yang lebih besar. Zakat fitrah diwajibkan bagi setiap Muslim sebelum Idul Fitri, memastikan bahwa semua orang, termasuk kaum dhuafa, dapat merayakan hari kemenangan.

Selain itu, anjuran bersedekah semakin kuat karena hadits-hadits Nabi menggambarkan bahwa Rasulullah sendiri menjadi lebih dermawan di bulan Ramadhan, terutama dalam memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.

Namun, di luar motivasi spiritual, ada juga tekanan sosial yang membuat Ramadhan menjadi ajang pamer kedermawanan. Norma yang berkembang di masyarakat menuntut seseorang untuk terlihat lebih peduli dan berbagi selama bulan suci. Banyak individu, kelompok dan lembaga merasa terdorong untuk berdonasi, entah karena ketulusan atau sekadar mengikuti tren yang ada.

Bahkan, dalam dunia bisnis, perusahaan berlomba-lomba menunjukkan citra sosial mereka dengan menyelenggarakan program amal, berbagi paket sembako, atau mendukung kampanye bantuan yang ramai di media.

Akibatnya, meski Ramadhan meningkatkan semangat berbagi, pertanyaannya adalah apakah semangat ini benar-benar lahir dari kesadaran jangka panjang, atau sekadar rutinitas tahunan yang berhenti setelah bulan suci berakhir?

Dalam banyak kasus, kedermawanan selama Ramadhan tidak hanya menjadi wujud kepedulian sosial, tetapi juga menjadi ajang unjuk stratifikasi—baik dalam aspek sosial ekonomi maupun keagamaan.

Di sisi sosial-ekonomi, tindakan berbagi sering kali menjadi cara bagi individu atau kelompok yang lebih mampu untuk menunjukkan posisi mereka dalam hirarki sosial. Filantropi dadakan yang dilakukan secara terbuka dan besar-besaran, dapat menciptakan kesan bahwa keberpihakan pada kaum lemah adalah bagian dari identitas kelas atas.

Namun tetap saja memperlihatkan ketimpangan: yang memberi tetap di atas, sementara yang menerima tetap di bawah. Tak ada mekanisme jangka panjang untuk mengatasi kesenjangan itu.

Sementara dari sisi keagamaan, kedermawanan di bulan Ramadhan juga bisa menjadi bentuk stratifikasi religius. Mereka yang lebih sering berbagi, atau yang mendonasikan jumlah lebih besar, sering kali dipandang sebagai Muslim yang lebih saleh dibanding yang lain —sebuah konstruksi sosial yang mungkin tidak selalu mencerminkan kesalehan sejati.

Media memainkan peran besar dalam membentuk persepsi publik terhadap amal di bulan Ramadhan. Setiap tahun, berbagai kampanye amal bermunculan di berbagai jenis media, menampilkan ajakan untuk berdonasi dengan slogan yang menyentuh hati. Iklan-iklan ini sering kali menunjukkan visual orang-orang miskin yang tersenyum setelah menerima bantuan, menciptakan narasi bahwa Ramadhan adalah satu-satunya waktu dalam setahun di mana kepedulian sosial benar-benar terwujud.

Banyak perusahaan memanfaatkan momen Ramadhan untuk meningkatkan citra mereka melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Bank, ritel, hingga perusahaan e-commerce berlomba-lomba mengemas donasi sebagai bagian dari strategi bisnis; sering kali dengan menyertakan logo perusahaan di setiap paket bantuan.

Salah satu kritik utama terhadap fenomena ini adalah sifatnya yang musiman bin dadakan. Fenomena ini menunjukkan bahwa amal sering kali dilakukan bukan sebagai bagian dari kesadaran sosial jangka panjang, tetapi lebih karena dorongan norma yang berkembang selama bulan suci.

Dampaknya terhadap masyarakat yang membutuhkan juga patut dipertanyakan. Ketika bantuan melimpah di bulan Ramadhan tetapi minim sepanjang tahun, mereka yang berada dalam kemiskinan tetap berada dalam siklus ketergantungan sementara. Alih-alih menciptakan solusi yang lebih permanen, seperti pemberdayaan ekonomi atau peningkatan akses pendidikan dan kesehatan, bantuan musiman ini sering kali hanya menjadi “pelipur lara” sesaat tanpa mengubah kondisi sosial secara signifikan.

Solusi dari fenomena dermawan dadakan atau musiman ini adalah dengan mengubah pola pikir dan pendekatan dalam berbagi.

Kedermawanan seharusnya bukan sekadar respons emosional terhadap suasana Ramadhan, tetapi menjadi kebiasaan yang berkelanjutan sepanjang tahun. Bukankah Ramadhan hanya langkah awal, latihan sebulan, untuk kemudian pada sebelas bulan berikutnya menjadi momen untuk menguji kesungguhan?

Perlu diingat bahwa zakat, infaq, sedekah itu semua berorientasi sosial, bukan pada pribadi pemberi. Pahala (itupun jika Tuhan mau memberikannya), hanyalah efek dari kemanfaatan yang ditimbulkan oleh apa yang kita berikan pada orang. Semakin besar pengorabanan dan manfaatnya, makin besar pula pahalanya.

Untuk itu, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pendekatan harus diubah dari bantuan konsumtif menjadi pemberdayaan. Alih-alih hanya memberikan makanan atau uang sekali-sekali, lebih baik mendorong program-program yang bisa meningkatkan kemandirian ekonomi, seperti pelatihan keterampilan, bantuan modal usaha kecil, atau beasiswa pendidikan.

Selain itu, menjadikan kepedulian sebagai budaya, bukan sekadar tren tahunan. Organisasi sosial, komunitas, dan individu, bisa membuat program jangka panjang yang tidak hanya muncul saat Ramadhan. Misalnya, gerakan sedekah mingguan atau bulanan yang terus berjalan sepanjang tahun.

Selanjutnya menghindari pencitraan dalam beramal. Amal yang dilakukan dengan ikhlas seharusnya tidak selalu dipublikasikan demi mendapatkan pengakuan sosial. Jika media dan perusahaan ingin terlibat, mereka harus memastikan bahwa program CSR mereka benar-benar berdampak nyata dan berkelanjutan bagi penerima manfaat, bukan sekadar kampanye branding.

Terakhir, peran pemerintah penting dalam mendorong keseimbangan sosial. Kebijakan seperti potongan pajak yang lebih mendorong amal jangka panjang, insentif bagi bisnis yang memberdayakan kelompok miskin, atau sistem zakat yang lebih terintegrasi, bisa menjadi cara agar kedermawanan tidak hanya terjadi di bulan Ramadhan.

Pada akhirnya, amal bukan hanya tentang berapa banyak yang diberikan, tetapi bagaimana dampaknya terhadap kehidupan orang lain. Jika semangat berbagi yang ada di bulan Ramadhan bisa dijaga sepanjang tahun, maka kedermawanan bukan lagi sekadar dadakan, melainkan menjadi bagian dari karakter sosial yang berkelanjutan.

Wallahu A’lam.

 

Banga, 5 Maret 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

HMTI Unasman Selenggarakan Malam Inagurasi Enc24ption Angkatan 24

Dosen Unasman Memberi Sosialisasi Etika Bermedsos