Idul Fitri sebagai Peristiwa Sosial dan Budaya


Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
 
Suatu ketika sekitar saat mahasiswa awal, menjelang libur Ramadhan, saya ajukan tantangan pada teman-teman kos; “ayo, siapa berani memutuskan sedikit “urat rindu” dengan cara tidak pulang kampung sampai lebaran”? Meski tidak ada jawaban tegas, tapi akhirnya, memasuki Ramadhan ada dua teman yang nampaknya tidak mudik.
 
Demikianlah, sekitar sepuluh pertama Ramadhan kami telah kehabisan amunisi; uang, minyak tanah, dan bahan makanan. Wesel Pos tak datang-datang. Kami belum begitu terbiasa menjalani hidup di kota sebagai mahasiswa rantaumasih besar malunya. Kami harus survival ke masjid untuk buka puasa. Berbuka sekaligus juga sebagai sahur.
 
Kami punya sebuah gitar milik teman yang mudik, tetapi tanpa senar 1, 2 dan 3. Saya berinisiatif menggunakan tali kopling motor sebagai pengganti senar agar dapat digunakan. Dengan gitar itu, setiap sore saya bernyanyi beberapa lagu yang itu-itu saja, berulang. Tetapi kadang air mata kami ikut pula menetes, teringat suasana puasa dan lebaran bersama keluarga.
 
Singkat cerita, H-4 lebaran, seorang teman datang menawarkan kerjaan; membuat tulisan kaligrafi lafadz takbir hari raya, di media kain tidak lebih 10 meter. Rejeki datang. Tentu saja saya terima. Dan dari honor kaligrafi, kami dapat bertahan hingga hari pertama lebaran.
 
Seorang teman di hari lebaran, akhirnya dapat pula mencapai terminal dan berhasil pulang kampung. Ongkos mobilnya di bayar di kampung. Hanya sehari, ia segera balik membawa puluhan ikat buras dan sekaleng biskuit ayam goreng.
 
***
 
Jika pada tulisan-tulisan sebelumnya saya selalu memulai dengan sebuah anekdot, kali ini saya sengaja memulai dengan cerita bersama teman. Pasalnya, dari peristiwa itu saya baru mulai dapat mengalami, meresapi dan memaknai apa itu lebaran. Saat jauh dari keluarga.

Idul Fitri merupakan momen yang dinantikan umat Islam seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Hari raya ini menandai berakhirnya bulan Ramadhan, sekaligus menjadi perayaan kemenangan bagi mereka yang telah menjalani ibadah puasa dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Lebih dari sekadar peristiwa religius, lebaran Idul Fitri juga merupakan peristiwa sosial dan peristiwa budaya.

Di Indonesia, Idul Fitri selalu diiringi dengan tradisi khas seperti mudik, halal bihalal, berbagi rezeki, dan silaturahmi. Semua tradisi ini memperkuat rasa kebersamaan dan menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarsesama. Lebih dari itu, Idul Fitri mengajarkan tentang pentingnya nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian sosial.

Idul Fitri di Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang mempererat hubungan sosial dan memperkuat nilai kebersamaan. Salah satu tradisi paling khas adalah “mudik”, di mana masyarakat kembali ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga.

Mudik menjadi simbol kerinduan akan tradisi dan kebersamaan keluarga. Meskipun tantangan seperti kemacetan dan biaya perjalanan sering muncul, semangat untuk pulang tetap menjadi bukti kuatnya ikatan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Selain mudik, “halal bihalal” menjadi tradisi unik yang mempererat hubungan antarkerabat, sahabat, hingga rekan kerja. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi dan membangun kembali hubungan yang mungkin renggang. Dalam suasana penuh kebahagiaan, pertemuan ini menjadi ajang berbagi doa dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Hidangan khas Lebaran seperti ketupat, buras, nasu palekko, opor ayam, rendang, tape, dan aneka kue, menunjukkan bagaimana kuliner menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya dalam perayaan ini.
 
Busana khas yang dikenakan saat Lebaran juga mencerminkan ekspresi budaya. Baju koko, sarung, kebaya, dan gamis menjadi pilihan pakaian yang tidak hanya mencerminkan nilai keislaman tetapi juga memperlihatkan estetika budaya lokal. Penggunaan pakaian baru juga melambangkan semangat pembaruan dan kebersihan diri, baik secara fisik maupun spiritual.
 
Selain itu, tradisi khas seperti, ziarah kubur, takbir keliling, grebeg syawal, perang ketupat, ronjok sayak, badusan, bakar gunung api, dan lain-lain, menunjukkan bagaimana Lebaran memiliki dimensi budaya yang kaya dan beragam. Tradisi ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana ekspresi identitas dan warisan budaya yang terus dipertahankan.
 
Di sisi lain, Idul Fitri juga dikaitkan dengan “semangat berbagi”. Memberikan angpao kepada anak-anak, bersedekah, dan menunaikan zakat fitrah adalah bagian dari tradisi yang menanamkan nilai kepedulian sosial. Dengan berbagi rezeki, kebahagiaan Idul Fitri dapat dirasakan oleh semua orang, tanpa memandang latar belakang ekonomi.
 
Semua tradisi ini mencerminkan bahwa Idul Fitri bukan hanya perayaan individu, tetapi juga peristiwa sosial yang memperkuat hubungan antarumat. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap tradisi mengajarkan kita bahwa kebersamaan, kepedulian, dan kasih sayang adalah bagian dari esensi hari kemenangan ini.
 
Idul Fitri adalah momen istimewa yang membawa semangat kesucian dan pembaruan diri. Salah satu nilai utama yang dijunjung adalah “saling memaafkan”, sebagai wujud dari hati yang kembali bersih.

Ucapan maaf yang tersebar di antara keluarga, teman, dan kerabat mencerminkan harapan untuk memperbaiki hubungan dan menghapus kesalahan yang lalu. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari perjalanan menuju hati yang lebih tenang dan jiwa yang lebih damai.

Lebih dari itu, Idul Fitri juga menjadi kesempatan untuk merenungkan sejauhmana perubahan nyata dalam diri kita setelah melewati bulan Ramadhan. Semangat berbagi, menahan diri, dan memperbaiki diri yang tumbuh selama Ramadhan diharapkan tidak hanya berlangsung sebulan, tetapi terus terjaga sepanjang tahun.

Di sinilah harmoni antara “kesalehan individu” dan “kesalehan sosial” menjadi penting. Ramadhan mengajarkan kita untuk memperbaiki diri, tetapi juga memperkuat hubungan sosial. Setelah Idul Fitri, semangat kebersamaan dan kasih sayang hendaknya tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun masyarakat.
 
Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan; selamat hari raya Idul Fitri, selamat berlebaran. Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.

Wallahu a’lam.

Banga, 30 Maret 2025.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

HMTI Unasman Selenggarakan Malam Inagurasi Enc24ption Angkatan 24

Dosen Unasman Memberi Sosialisasi Etika Bermedsos