Jubah Makan Roti
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Suatu hari, Nasruddin Hoja diundang ke sebuah jamuan makan oleh seorang pria kaya di desanya. Namun, seperti biasa, Hoja datang dengan pakaian sederhana yang terkesan lusuh setelah bekerja di ladang. Ketika ia tiba di pintu, para pelayan memandangnya dengan jijik dan mengusirnya. Mereka memandang bahwa Hoja hanyalah seorang pengemis yang mencoba masuk tanpa diundang.
Merasa dipermalukan, Hoja pulang ke rumahnya dan mengenakan jubah terindah yang ia miliki—dengan bordiran emas dan kain yang halus. Kali ini, ketika ia kembali ke jamuan makan, para pelayan menyambutnya dengan hormat dan segera membawanya ke meja utama.
Saat makanan dihidangkan, Hoja melakukan sesuatu yang aneh: ia mengambil sepotong roti dan mulai mengoleskan makanan ke lengan bajunya, lalu berkata, "Silakan makan, wahai jubahku, silakan makan"!
Para tamu dan tuan rumah menatapnya dengan heran. Salah satu dari mereka bertanya, "Hoja, apa yang kau lakukan"?
Hoja tersenyum dan menjawab, "Ketika aku datang dengan pakaian biasa, aku diusir. Tetapi ketika aku mengenakan jubah mewah, aku diterima dengan hormat. Jadi, jelas bahwa bukan aku yang diundang ke sini, melainkan jubahku! Maka biarlah jubahku yang menikmati hidangan ini”.
***
Pembahasan kemarin adalah tentang kekeliruan dalam memahami realitas objektif. Meskipun berhubungan dekat, namun pembahasan kali ini fokus pada bagaimana kekeliruan itu tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Suatu bentuk pemujaan terhadap permukaan dan karena itu meninggalkan yang inti.
Dalam banyak budaya, penghormatan sering kali didasarkan pada status sosial, pakaian, atau penampilan luar lainnya. Fenomena ini bukan hanya terjadi di pesta yang dihadiri Hoja, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan. Baik dalam kehidupan di lingkungan sosial, dunia pendidikan, bahkan dalam kehidupan beragama.
Dalam kehidupan sosial, orang sering dihargai berdasarkan
pekerjaannya atau kedudukan di tengah masyarakat, bukan karakternya. Begitulah
yang di alami Hoja.
Dalam dunia pendidikan, seseorang lebih dihormati karena gelarnya daripada gagasannya. Dalam agama, kesalehan sering diukur dari simbol luar (seperti pakaian, retorika, atau jumlah ibadah yang terlihat), bukan dari ketulusan hati dan amal perbuatannya.
Dalam kisah di atas, Hoja bukan sekadar mengolok-olok perilaku sosial, tetapi dia juga mengungkap struktur ketidakadilan yang sering kali tidak terlihat. Jubah dalam kisah ini bukan hanya simbol status sosial, tetapi juga representasi dari bagaimana sistem sosial dibangun di atas ilusi: bahwa penampilan lebih bernilai daripada substansi.
Fenomena ini berkaitan dengan konsep "realitas sosial", di mana kebenaran bukan hanya apa yang objektif, tetapi apa yang dipercayai oleh masyarakat. Dalam konteks ini, apakah seseorang dihormati karena kemuliaan dirinya sendiri atau karena peran yang ia mainkan? Hoja menyindir bahwa dalam kehidupan sosial, sering kali bukan diri kita yang dihormati, tetapi kostum predikat yang kita kenakan.
Dalam sosiologi, Erving Goffman menyebutnya sebagai "dramaturgi sosial", di mana manusia layaknya aktor yang memainkan peran sesuai dengan panggung sosialnya. Semuanya hanya acting. Yang utama adalah grooming (tampilan) atau apa yang dikenal dengan istilah “impression management” (mengelola kesan), suatu keterampilan yang bertujuan untuk menciptakan sebuah kesan lebih konsisten di mata penonton sesuai dengan apa yang diinginkan oleh sutradara.
Jika kita tarik lebih dalam, kisah ini adalah bentuk kritik terhadap hierarki sosial yang dibangun bukan berdasarkan Kebajikan, keluhuran moral, atau kecerdasan seseorang, melainkan pada standar-standar artifisial yang tidak memiliki bobot moral.
Di era teknologi informasi dan komunikasi, ini dapat dianalogikan dengan bagaimana media sosial memperkuat konstruksi identitas berbasis estetika digital—di mana orang-orang lebih dihargai karena "branding" mereka daripada tindakan nyata yang mereka lakukan.
Dalam dunia tasawuf, ada konsep penting yang sering dibahas, yaitu syariat dan hakikat. Syariat adalah aspek lahiriah dari agama, seperti ibadah formal, aturan berpakaian, dan norma sosial. Sementara hakikat adalah esensi batiniah dari keberagamaan, yakni makna terdalam di balik setiap perbuatan dan hubungan spiritual seseorang dengan Tuhan.
Kisah Hoja, dalam tasawuf, dapat dikaitkan dengan kesalehan formalitas. Orang sering menilai keimanan seseorang dari simbol lahiriah seperti pakaian dan aksesori Islami, panjangnya doa, atau seringnya ia berada di masjid. Padahal, yang lebih penting adalah hati dan kesadaran spiritual seseorang.
Ibn Arabi mengatakan, “jangan tertipu oleh pakaian seorang fakir atau sorban seseorang alim, sebab Tuhan melihat hati, bukan penampilan”. Rabi’ah Al-Adawiyah, seorang sufi perempuan yang terkemuka, juga mengkritik mereka yang menjalankan ibadah hanya demi pengakuan sosial, bukan karena cinta kepada Tuhan.
Kisah Hoja di atas juga menggambar keadaan seorang atau bahkan masyarakat tertentu yang beribadah hanya untuk mendapatkan penghormatan duniawi. Praktik-praktik keagamaan mereka berorientasi lebih kepada memperoleh kemuliaan dari sesama manusia, bukan kemuliaan dalam pandangan Allah. Beribadah agar dipandang saleh, bukan karena ingin mendekat kepada Allah. Menggunakan agama sebagai alat status sosial, bukan sebagai jalan menuju Tuhan.
Kisah Hoja bisa dikaitkan dengan bagaimana seorang pencari kebenaran harus melepaskan dirinya dari keinginan untuk diakui dan dihormati. Orang yang benar-benar beriman tidak peduli apakah dunia menghormatinya atau tidak. Biasa saja di dunia, tetapi mulia di hadapan Tuhan. Puasa sejati bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari keinginan untuk dipuji atas kesalehan kita.
Salah satu sufi besar, Abu Yazid Al-Busthami, pernah berkata; “tinggalkan ketenaran jika engkau ingin mengenal Tuhan, sebab kemuliaan di sisi manusia sering kali menjauhkanmu dari kemuliaan di sisi-Nya”.
Kisah Hoja seolah menegaskan bahwa banyak orang lebih
menghormati simbol daripada esensi, sementara seorang pencari esensi harus
meninggalkan semua bentuk kepalsuan.
Bukankah salah satu tujuan puasa adalah mengendalikan diri dari segala godaan (termasuk pujian) yang datang sebagai pesona-pesona dunia, dan memfokuskan diri pada jalan-jalan intuitif untuk menghadirkan rasa kedekatan dengan Allah?
Wallahu A’lam.
Banga, 14 Maret 2025.
Komentar