Kitabun Marqum dan Artificial Intelligence
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Suatu hari, seorang ilmuwan data bernama Dr. Faris sedang mengembangkan sistem kecerdasan buatan (AI) yang mampu mencatat semua aktivitas manusia secara otomatis. Ia percaya bahwa teknologi dapat membantu menciptakan sistem keadilan yang sempurna.
"Bayangkan", kata Faris kepada sahabatnya, Andank, seorang pemuda yang mendalami ilmu agama. "Jika kita bisa membuat AI yang mencatat setiap perkataan, tindakan, bahkan niat seseorang, maka kita bisa menghindari ketidakadilan. Tidak ada lagi penjahat yang lolos, dan tidak ada orang baik yang terzalimi"!
Andank tersenyum dan bertanya, "jadi kamu ingin membuat Kitabun Marqum versi digital"?
Faris terdiam. "Kitabun Marqum"?
"Ya", jawab Andank. "Dalam Islam, segala amal manusia dicatat dengan sempurna, tanpa celah, tanpa manipulasi. Malaikat mencatat setiap kebaikan dan keburukan, dan semuanya tersimpan dalam kitab yang tak bisa diubah".
Faris menggeleng. "Tapi sistem AI ini berbasis Big Data. Ia bisa belajar dari pola manusia, menilai mereka berdasarkan algoritma canggih, dan memberikan prediksi atas tindakan mereka di masa depan!"
Andank tertawa kecil. "AI memang pintar, tapi ia hanya alat. Bisa saja ia salah, bisa diprogram ulang, bisa diretas. Sedangkan Kitabun Marqum tak akan pernah salah, tak bisa direkayasa, dan catatannya akan diungkap pada waktunya".
***
Kitabun Marqum dalam Islam adalah catatan amal manusia yang tetap dan tidak bisa diubah. Konsep ini menunjukkan keadilan ilahi, di mana setiap perbuatan baik dan buruk terdokumentasi secara sempurna. Kitab ini menjadi bukti autentik di hari pembalasan, mencerminkan prinsip pencatatan yang adil dan transparan dalam Islam.
Kitabun Marqum terkait erat dengan dua istilah penting dalam Al-Qur’an, yaitu sijjiin dan ‘illiyyin, yang menunjukkan catatan amal manusia berdasarkan perbuatannya di dunia.
Sijjiin dijelaskan dalam Surah Al-Mutaffifin ayat 7-9: "Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang durhaka tersimpan dalam sijjiin. Tahukah kamu apakah sijjiin itu? (Itulah) kitab yang tertulis (Kitabun Marqum)".
‘Illiyyin dijelaskan dalam Surah Al-Mutaffifin ayat 18-20: "Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang berbakti tersimpan dalam 'illiyyin. Tahukah kamu apakah ‘illiyyin itu? (Itulah) kitab yang tertulis (Kitabun Marqum)".
Kedua kitab penyimpanan catatan ini menjadi bagian dari Kitabun Marqum yang mencerminkan keadilan Allah, di mana setiap perbuatan manusia akan diberikan balasan setimpal di hari akhir. Kita bisa memahaminya bahwa setiap orang memiliki data di dalam Kitabun Marqum sebagai catatan amalnya.
Saat ini, kita tidak begitu sulit membayangkan bagaimana sesungguhnya mekanisme kerja Kitabun Marqum. Kehadiran teknologi Artificial Intelligence (AI) dapat membuka jalan pemahaman.
AI berkembang pesat dalam berbagai aspek kehidupan, dari kesehatan, pendidikan, hingga bisnis. AI membantu otomatisasi, analisis Big Data, dan pengambilan keputusan. Dengan algoritma canggih, AI meningkatkan efisiensi, inovasi, dan produktivitas, meskipun tetap menyimpan tantangan etika serta dampak sosial yang signifikan.
Jadi, bila dibayangkan secara sederhana, Kitabun Marqum ini semacam seperangkat system pencatatan super canggih, mulai dari proses input data, olah dan analisis data, output hasil analisis data, hingga cara penyimpanan yang super aman di banding system cloud.
Kitabun Marqum sebagai "Database Ilahi" memiliki kesamaan dengan konsep Big Data, di mana seluruh aktivitas manusia dicatat secara sempurna dan konfrehensif. Izinkan saya ingin menyebutnya sebagai “Super Big Data”, yang tidak bisa diubah atau direkayasa.
Layaknya Big Data yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, Kitabun Marqum mencatat amal baik dan buruk manusia tanpa ada yang terlewat sekecil apapun. Data ini tersimpan dengan sangat detil, sedetil ukuran terkecil yang tak dapat lagi dihitung oleh manusia. Ditambah lagi dengan kesaksian oleh segala hal dan benda yang pernah berkait dengan laku perbuatan kita. Al-Qur’an menggambarkan; mulut dikunci, kaki dan tangan bersaksi.
Namun, berbeda dengan teknologi manusia yang masih bisa dimanipulasi, catatan dalam Kitabun Marqum bersifat absolut dan menjadi bukti utama di hari pembalasan.
Bagaimana AI dan Big Data ‘meniru’ system pencatatan amal? AI memproses data manusia untuk membuat keputusan otomatis, seperti Kitabun Marqum mencatat amal manusia. Algoritma AI bekerja seperti hukum ilahi, yang memproses input (perbuatan manusia) menjadi output (balasan amal). Keakuratan dan objektivitas AI mencerminkan sistem pencatatan amal perbuatan yang tidak dapat dimanipulasi.
Kitabun Marqum dan AI memiliki kesamaan dalam pencatatan data, tetapi berbeda dalam sifat dan keadilannya. Kitabun Marqum dicatat oleh malaikat berdasarkan amal manusia, sedangkan AI mengumpulkan data melalui sensor, log, dan sistem digital.
Dari segi keakuratan, Kitabun Marqum bersifat absolut tanpa kesalahan, sementara AI masih bergantung pada kualitas data dan algoritma yang digunakan. Keadilan dalam Kitabun Marqum mengikuti hukum Tuhan, sedangkan AI bekerja berdasarkan aturan manusia yang bisa bias.
Aksesibilitasnya juga berbeda, Kitabun Marqum hanya terungkap di akhirat, sedangkan AI dapat diakses kapan saja. Kitab ini dapat mengakses segala rahasia manusia, tetapi ia sendiri menjadi rahasia bagi manusia hingga hari pengadilan. Selain itu, Kitabun Marqum tidak bisa dimanipulasi, berbeda dengan AI yang masih bisa diretas atau diubah
Meskipun AI dapat ‘meniru’ proses pencatatan data, ia tidak mampu menggambarkan keadilan ilahi seperti Kitabun Marqum. AI hanya merekam aktivitas manusia berdasarkan input digital, sementara Kitabun Marqum mencatat amal secara lahiriah dan batiniah.
Secanggih apa pun teknologi, manusia tidak bisa menciptakan sistem pencatatan yang sempurna seperti Kitabun Marqum. AI memiliki keterbatasan terutama dalam memahami dan mencatat; niat dan moralitas. Kitabun Marqum mencatat perbuatan menembus niat yang paling tersembunyi dan kecerdikan manipulasi moral.
Akhirnya, saya ingin menggarisbawahi bahwa perkembangan teknologi AI yang mampu mengumpulkan, menganalisis, dan menyimpan data dalam skala besar, sesungguhnya dapat memperkuat pemahaman kita tentang konsep pencatatan amal dalam Kitabun Marqum. Saya tidak ingin memvisualisasi Kitabun Marqum sebagai sebuah buku, melainkan sebagai system yang jauh lebih rumit dari system digital. Sebut saja seribu kali lebih rumit—meminjam rumus lailatul qadr.
Wallahu A’lam.
Banga, 18 Maret 2025.
Komentar