"La‘allakum Tattaqun" dan Insan al-Kamil
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Di sebuah kampung kecil, hiduplah seorang tukang roti
bernama Abdullah. Ia dikenal sebagai orang yang jujur dan rajin beribadah.
Setiap pagi sebelum subuh, ia sudah menyalakan tungku dan menyiapkan adonan
roti. Pelanggannya datang dari berbagai penjuru karena roti buatannya terkenal
lezat dan lembut.
Suatu hari, seorang pemuda bertanya kepadanya, “Pak
Abdullah, apa rahasia Anda sehingga roti buatan Anda selalu enak dan hidup Anda
selalu tenang?”
Abdullah tersenyum dan menjawab, “Rahasia saya? Itu ada di
Ramadhan.”
Pemuda itu mengernyitkan dahi, “Apa maksudnya?”
Abdullah menepuk bahu pemuda itu dan berkata, “Setiap
Ramadhan, saya belajar menahan lapar bukan hanya dari makanan, tapi juga dari
keburukan hati. Saya belajar mengadoni sabar seperti saya mengadoni bahan roti,
belajar membakar nafsu seperti saya memanggang roti, dan belajar memberikan
manfaat bagi orang lain seperti roti ini mengenyangkan mereka yang lapar.
Setiap tahun, saya semakin sadar bahwa puasa bukan sekadar menahan diri, tetapi
membentuk diri. Inilah yang disebut la‘allakum tattaqun, agar kita menjadi
orang yang bertaqwa.”
Pemuda itu terdiam, lalu bertanya, “Lalu apa hubungannya
dengan Insan al-Kamil?”
Abdullah tersenyum, “Ketaqwaan itu bukan hanya tentang takut
kepada Allah, tetapi juga tentang menyadari kehadiran-Nya dalam setiap hal yang
kita lakukan. Saat tangan ini mengadoni roti dengan jujur, saat saya memberi
harga yang wajar, saat saya tidak curang menakar tepung, itulah cara saya
mendekati kesempurnaan sebagai manusia. Jika kita menjalani hidup dengan
kesadaran seperti ini, kita sedang berjalan menuju Insan al-Kamil.”
Dalam pembahasan sebelumnya saya telah
menuliskan bahwa Ramadhan merupakan momentum transformasi bagi setiap Muslim,
baik transformasi spiritual, diri maupun sosial. Dalam Al-Qur’an, tujuan utama
puasa dinyatakan dengan jelas: la‘allakum tattaqun—agar kamu bertaqwa
(QS. Al-Baqarah: 183). Taqwa bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan agama,
tetapi kesadaran mendalam akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Puasa melatih pengendalian diri, kepekaan sosial, serta
keseimbangan antara dunia dan akhirat—nilai-nilai yang juga melekat dalam
karakter Insan al-Kamil (manusia paripurna atau sempurna). Seorang
Muslim yang menjalani Ramadhan dengan kesungguhan sejatinya sedang menapaki
jalan menuju kesempurnaan kemanusiaannya.
Konsep Insan al-Kamil merujuk pada manusia yang mampu
menyelaraskan dirinya dengan nilai-nilai ketuhanan dan menjadi refleksi
sifat-sifat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Ramadhan, sebagai bulan
pembinaan jiwa, memberikan ruang bagi setiap Muslim untuk menapaki jalan menuju
kondisi ideal ini.
Dalam tasawuf, perjalanan menuju kesempurnaan ini melewati
empat tahapan utama: syariat, tariqat, haqiqat, dan ma‘rifat. Puasa Ramadhan dapat menjadi salah satu media yang mengantarkan manusia melewati tahapan-tahapan
ini, dari sekadar ketaatan hukum hingga pencapaian kesadaran tertinggi akan
Allah.
Tahap pertama adalah syariat, yang menuntut ketaatan
terhadap hukum Islam. Puasa dalam tahap ini dipahami sebagai kewajiban yang
harus dijalankan sesuai dengan aturan fiqh—menahan diri dari makan,
minum, dan hal-hal yang membatalkan dari fajar hingga maghrib. Ini adalah pintu
awal bagi seorang Muslim untuk mendisiplinkan dirinya dan membangun kesadaran
akan perintah Allah.
Tahap berikutnya adalah tariqat, yaitu jalan menuju
penyucian diri. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan
hawa nafsu, menjaga lisan, serta memperbanyak ibadah seperti shalat malam dan
dzikir. Pada tahap ini, seorang Muslim mulai memperbaiki kualitas hubungannya
dengan Allah dan sesama manusia.
Ramadhan menjadi sarana penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
Seorang yang menjalani puasa dengan kesadaran penuh akan lebih mudah
merefleksikan diri, menghapus kesalahan masa lalu, dan memperbaiki akhlaknya.
Puasa juga menjadi latihan rohani yang mendidik manusia
untuk mengendalikan hawa nafsu. Pengendalian diri (mujahadah an-nafs)
adalah salah satu ciri utama Insan al-Kamil, karena seseorang yang telah
menguasai dirinya dapat lebih dekat kepada Allah.
Setelah mencapai kedisiplinan dalam tariqat,
seseorang akan sampai pada haqiqat, yakni kesadaran mendalam bahwa
segala sesuatu bersumber dari Allah. Dalam fase ini, puasa tidak lagi terasa
sebagai beban kewajiban, melainkan menjadi bentuk penghambaan yang tulus.
Seseorang mulai memahami makna terdalam dari la hawla wa la quwwata illa
billah—bahwa tidak ada daya dan kekuatan selain dari Allah.
Puncaknya adalah ma‘rifat, di mana seseorang mencapai
pengenalan dan penyaksian langsung terhadap Allah. Pada tahap ini, seorang
hamba tidak hanya sadar akan keberadaan Allah dalam hidupnya, tetapi juga
merasa dirinya selalu dalam hadirat-Nya. Puasa menjadi sarana untuk meleburkan
ego dan masuk melebur dalam kesadaran ilahi.
Dengan demikian, Ramadhan dapat menjadi starting point
bagi sebuah jalan spiritual yang akan mengantarkan manusia pada tingkat ketaqwaan
yang lebih tinggi. Melalui disiplin ibadah dan introspeksi diri yang mendalam,
seorang Muslim dapat semakin mendekati ideal Insan al-Kamil dalam
kehidupan nyata. Proses ini menumbuhkan kepekaan spiritual, semakin dekat
dengan Allah dan semakin matang dalam akhlaknya.
Seseorang yang bertaqwa tidak hanya menjaga hubungannya
dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga dengan manusia (hablum
minannas). Ia menjadi individu yang memiliki keseimbangan antara dimensi
spiritual dan sosial, antara ibadah dan peran kemanusiaannya.
Oleh karena itu, la‘allakum tattaqun bukan sekadar
harapan, tetapi sebuah proses transformatif yang menjadikan puasa sebagai
langkah nyata menuju kesempurnaan kemanusiaan. Ketaqwaan yang lahir dari
Ramadhan bukan hanya bersifat personal, tetapi juga menjadi kekuatan moral yang
membentuk masyarakat yang lebih baik.
Wallahu a’lam.
Banga, 29 Maret 2025.
***
Komentar