Masjid, Ruang Sosial, dan Parade Image

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Suatu malam Ramadhan di akhir pekan awal, Andang tampak semangat memasuki masjid termegah dan ikonik di kotanya.  Dengan baju koko baru yang masih “beraroma” toko, ia melirik ke sekeliling, memastikan posisi di shaf depan masih tersedia. “Biar kelihatan rajin,” batinnya. Tak jauh darinya, Rahmat datang dengan parfum khas Timur Tengah yang begitu menyengat. Sementara di luar, sekelompok anak muda sibuk berswafoto sebelum masuk ke dalam masjid.

Usai salat tarawih, Andang melihat ponselnya penuh dengan unggahan Instagram teman-teman: foto-foto dengan caption Islami, rekaman tadarus, dan bukti transfer sedekah online. Ia tersenyum kecil, lalu buru-buru mengunggah foto dirinya di dalam masjid. “Jangan sampai ketinggalan”, gumamnya sambil menambahkan kutipan ayat suci di kolom caption.

***

Hampir di setiap kota negri ini, terdapat masjid megah. Bahkan karena sangat megahnya, ia menjadi ikonik kota atau daerah. Orang-orang yang datang ke wilayah itu, seolah kurang lengkap jika tidak datang shalat di masjid itu, atau meski hanya sekedar datang berswafoto dengan masjid sebagai latarnya.

Di berbagai kota atau daerah, pemerintahnya—atau bahkan masyarakatnya, membangun atau merenovasi masjid secara besar-besaran. Masjid-masjid baru bermunculan dengan arsitektur megah, marmer mewah, lampu kristal yang berkilauan, dan karpet tebal yang nyaman.

Alasan religiusnya dapat ditemukan dalam QS. At-Taubah (9):18, "Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.

"Memakmurkan" masjid tidak hanya berarti membangun dan memperindah bangunan fisiknya, tetapi juga menjadikannya pusat ibadah, menegakkan syiar Islam seperti mengisi masjid dengan pengajian, kajian ilmu, dan aktivitas dakwah. Memanfaatkan untuk kepentingan sosial. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kepedulian sosial seperti pengumpulan zakat, infak, dan sedekah untuk membantu sesama.

Saya tidak ingin mengulas masjid dalam wajahnya sebagai Rumah Ibadah. Karena saya menganggap masjid dalam perpektif itu sudah selesai, meski masih ada yang harus selalu dibincangkan.

Mari kita lihat “wajah” lain dari masjid-masjid megah ikonik itu. Karena masjid berada dalam suatu ruang sosial, maka masjid tidak mungkin dipisahkan dengan lingkungan sosialnya. Dan lebih jauh, kita dapat melihat masjid menjadi representasi identitas sosial atau symbol status sosial.

Masjid merepresentasikan stratifikasi sebuah kota, menunjukkan kekuatan ekonomi dan sosial suatu kota atau kelompok agama tertentu. Muncullah sebutan masjid termegah dan termewah sepanjang sejarah kota itu, bahkan peringkat sekian secara nasional.

Masjid juga merepresentasi identitas kelompok, melalui arsitektur khas bisa mencerminkan kuatnya pengaruh budaya, mazhab, atau organisasi tertentu.

Masjid juga merepresentasikan persaingan simbolik, di mana kota, daerah, kelompok atau individu, berlomba-lomba membangun masjid yang lebih besar atau mewah untuk mengangkat prestise sosial. Bisa menjadi symbol kekuasaan dan kejayaan politik suatu pemerintahan. Bisa juga menjadi symbol kebanggan daerah. 

Beberapa tokoh politik, atau figur kaya, membangun masjid dengan nama keluarga atau pribadi mereka, yang secara tidak langsung meningkatkan citra sosial mereka. Dan akhirnya menjadi masjid menjadi symbol kemajuan, masjid kota yang modern dan masjid desa yang tradisional. 

Mari kita tinggalkan wajah masjid, dan masuk ke dalam, dengan melihat masjid sebagai ruang sosial. Saya tidak ingin mengajak kita memasuki masjid sebagai ruang spiritual, karena itu juga hal yang sudah lama selesai.

Tokoh Andang dalam anekdot di awal tulisan, bukan cerita asing. Ramadhan, bagi sebagian orang, bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum untuk memperlihatkan identitas religiusnya. Masjid, sebagai ruang ibadah, juga menjadi ruang sosial tempat citra kesalehan dipertontonkan.

Masjid memang, sejatinya, memiliki fungsi sosial. Di dalamnya interaksi sosial berlangsung secara positif. Masjid menjadi pusat interaksi komunitas, sebagai tempat berkumpulnya masyarakat, tempat diskusi, bahkan forum penyelesaian masalah sosial.

Masjid menjadi ruang pendidikan dan dakwah, sebagai tempat belajar agama, baik melalui kajian keislaman maupun program pendidikan. Bahkan juga masjid menjadi ruang kegiatan ekonomi.

Masjid juga menjadi simbol identitas religius suatu komunitas. Di beberapa daerah, masjid menjadi penanda eksistensi komunitas Muslim, terutama di negara dengan populasi Muslim minoritas.

Islam menganjurkan berpakaian terbaik saat ibadah, sebagaimana dalam QS. Al-A’raf (7:31): "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid...".

Namun demikian, kita juga sering menemukan, secara sadar atau tidak, masjid menjadi ruang atau arena persaingan gengsi sosial. Dalam praktiknya, hal ini berkembang menjadi standar sosial di mana penampilan di masjid mencerminkan kelas sosial seseorang. Orang berlomba mengenakan pakaian terbaik saat ke masjid, bukan hanya untuk menghormati Allah dan “rumah” Allah, tetapi juga agar terlihat lebih baik di mata orang lain.

Aksesori keislaman menjadi simbol status; sarung, sorban, jubah, atau pakaian khas tertentu menjadi simbol kesalehan sekaligus status sosial. Bahkan mungkin panitia masjid menjadi bingung, yang mana ustaz yang akan memberikan ceramah.

Fenomena ‘parade fashion’ di masjid-masjid besar, terutama saat shalat Jumat atau Tarawih di bulan Ramadhan, banyak orang yang tampil sebaik mungkin seolah sedang menghadiri acara formal. Kesalehan pun menjadi komoditas sosial, di mana keberadaan seseorang di masjid tidak selalu sekadar beribadah, tetapi juga sebagai bagian dari citra diri di ruang sosial.

Tidak semua masjid bersifat inklusif bagi semua lapisan masyarakat. Beberapa masjid memiliki standar sosial tertentu yang membuatnya terkesan lebih eksklusif.

Masjid di kawasan elit cenderung memiliki fasilitas lebih mewah, bahkan dengan aturan berpakaian tertentu bagi jamaahnya. Perbedaan kelas ekonomi terlihat dari interaksi jamaah. Selain itu, beberapa orang juga merasa ‘kurang pantas’ datang ke masjid tertentu karena merasa tidak sesuai dengan standar sosial jamaah yang lain.

Di beberapa tempat, pembangunan masjid sering kali tidak memperhitungkan akses bagi kelompok marjinal. Beberapa masjid megah lebih fokus pada estetika daripada memastikan bahwa masjid dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk kaum miskin dan difabel.

Demikianlah, masjid memiliki wajah beragam—untuk tidak mengatakan berlapis. Ada wajah sakral, indentitas, symbolik, dan status sosial. Sebagai ruang sosial, masjid memiliki ruang-ruang yang kompleks; ruang spiritual, interaksi, dakwah, pendidikan, ekonomi, symbol, identitas religious, gengsi sosial, parade fashion dan parfum, parde aksesori, kelas sosial, kelas ekonomi, dan bahkan menjadi ruang ekslusif.

Wallahu A’lam.

Banga, 7 Maret 2025.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

HMTI Unasman Selenggarakan Malam Inagurasi Enc24ption Angkatan 24

Dosen Unasman Memberi Sosialisasi Etika Bermedsos