Memburu Lailatul Qadr: Transaksional atau Transformatif?
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Malam itu, Rahman duduk di saf paling depan masjid, sarungnya rapi, baju kokonya masih berbau wangi cendana, dan tasbih digital berkilau di tangannya. Ia sudah siap menghabiskan malam dengan doa, zikir, tahajud, dan tilawah.
"Ini malam ke-23, peluang besar dapat lailatul qadr", batinnya penuh semangat.
Namun, di luar masjid, suasana berbeda. Seorang bapak tua begadang berjualan gorengan dengan gerobak sederhana. Tangannya gemetar setiap mengemas pesanan. Ia dengan penuh harap dagangannya laku agar bisa membeli beras untuk keluarganya.
Tiba-tiba, sekelompok pemuda datang. Mereka tertawa, mendorong gerobaknya hingga beberapa gorengan jatuh ke tanah.
"Pak, sudah malam! Jualan terus? Kasih gratis lah, biar pahala puasanya nambah"! Kata salah seorang dari mereka, disambut tawa teman-temannya.
Si bapak tua hanya bisa tersenyum lemah. "Maaf, Nak… ini buat makan keluarga saya…", katanya pelan.
Rahman, yang sedang melantunkan doa panjang, mendengar kegaduhan itu. Ia melirik sebentar ke luar, melihat si bapak tua berusaha menyelamatkan dagangannya. Tapi ia menghela napas, mengalihkan pandangannya kembali ke mushaf.
"Aku tak boleh terganggu. Ini malam istimewa. Urusan di luar jangan sampai mengurangi pahala ibadahku".
Ia kembali menundukkan kepala, melanjutkan zikirnya.
Esok pagi setelah shalat subuh, seorang ustaz berceramah:
"Jangan kira ibadah hanya soal shalat dan zikir. Jika kau melihat kezaliman dan memilih diam, lalu di mana tanda bahwa ibadahmu telah mengubah hatimu"?
Rahman tersentak. Tiba-tiba ia teringat kejadian tadi malam.
"Jangan-jangan, aku hanya mengejar diskon pahala, tapi kehilangan makna sejati lailatul qadr".
***
Lailatul Qadr adalah malam penuh kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Dalam ajaran Islam, malam ini diyakini sebagai waktu diturunkannya Al-Qur’an dan sebagai kesempatan bagi umat Muslim untuk mendapatkan pahala besar serta pengampunan dosa. Oleh karena itu, banyak orang berusaha menghidupkan malam ini dengan ibadah seperti shalat, zikir, dan membaca Al-Qur’an.
Namun, ada fenomena menarik dalam menyikapi lailatul qadr. Sebagian orang kesannya fokus pada perhitungan pahala, seolah-olah ibadah menjadi transaksi spiritual semata. Mereka mengisi malam dengan ritual, tetapi tidak selalu menghadirkan perubahan dalam diri dan hubungan sosial. Ibadah hanya berlangsung di dalam masjid, sementara di luar sana, kezaliman, kemaksiatan, dan kemungkaran sosial sering terabaikan.
Lantas, apakah ibadah lailatul qadr hanya sebatas mengejar transaksional pahala, atau seharusnya menjadi momen transformatif yang mengubah diri dan lingkungan?
Lailatul qadr disebut dalam Al-Qur'an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3). Ini berarti ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai luar biasa di sisi Allah. Dalam berbagai hadis, Rasulullah juga menekankan pentingnya mencari malam ini di sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya di malam-malam ganjil.
Akan tetapi, Islam tidak hanya menekankan ibadah individual. Islam juga mengajarkan bahwa ibadah sejati harus berdampak pada kehidupan sosial. Rasulullah bukan hanya seorang ahli ibadah, tetapi juga seorang pemimpin yang peduli pada keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan umat.
Konsep ibadah yang ideal dalam Islam selalu mencakup hubungan dengan Allah (hablun min Allah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablun min an-nas). Jika lailatul qadr hanya dipahami sebagai ritual untuk mengejar dan mendapatkan penggandaan pahala, tanpa perubahan sikap dan kepedulian sosial, maka esensi sejatinya berisiko tereduksi menjadi ibadah yang bersifat transaksional.
Tidak sedikit masjid, setiap Ramadan, suasana malam-malam terakhir begitu semarak. Umat Muslim berlomba-lomba melakukan shalat malam, berzikir, dan membaca Al-Qur’an, dengan harapan mendapatkan pahala berlimpah melalui lailatul qadr. Apakah ibadah ini benar-benar mendekatkan diri kepada Allah (move on, transformasi diri), ataukah hanya menjadi ajang perburuan pahala semata? Hanya pelaku dan Allah yang tahu.
Tidak jarang orang memahami lailatul qadr sebagai kesempatan "diskon pahala", di mana satu malam ibadah setara dengan seribu bulan. Akibatnya, ada yang begitu giat beribadah pada malam tersebut, tetapi setelah Ramadan berlalu, perilaku dan akhlaknya tetap sama. Bahkan, sebagian orang yang sangat tekun beribadah di masjid tidak selalu peka terhadap ketidakadilan di sekitarnya.
Sejatinya, lailatul qadr tidak dipahami sebatas transaksi spiritual, melainkan menjadi pemantik perubahan moral dan sosial yang lebih luas.
Jika seseorang benar-benar mengalami lailatul qadr, seharusnya ada jejak perubahan dalam hidupnya. Tanda diterimanya kemuliaan oleh seseorang adalah bertambahnya kebaikan dalam perilaku dan perbuatannya. Artinya, orang yang mendapatkan lailatul qadr tidak hanya semakin rajin beribadah, tetapi juga lebih jujur, lebih peduli terhadap orang lain, dan lebih peka terhadap ketidakadilan sosial.
Malam kemuliaan ini seharusnya tidak berhenti pada ritual, tetapi menjadi awal dari transformasi pribadi dan sosial. Jika tidak, maka ibadah tersebut berisiko menjadi rutinitas tanpa makna, kehilangan ruh yang seharusnya membawa perubahan nyata. Tantangan bagi kita semua untuk menghidupkan lailatul qadr secara transformatif, bukan sekadar transaksional.
Wallahu a’lam.
Madatte Polman, 23 Maret 2025.
Komentar