Puasa, Mekanisme Pengawasan, dan CCTV Pak Bagus

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
 
Suatu hari, seorang pemilik toko roti bernama Pak Bagus merasa penjualannya menurun. Ia mendengar keluhan dari pelanggan bahwa beberapa karyawannya kurang disiplin saat bekerja—ada yang datang terlambat, ada yang tidak menjaga kebersihan, bahkan ada yang memberikan roti secara cuma-cuma kepada teman-temannya.

Merasa perlu bertindak, Pak Bagus memutuskan untuk memasang kamera pengawas (CCTV) di dalam toko. Begitu kamera itu dipasang, semua karyawan menjadi sangat rajin. Mereka datang tepat waktu, bekerja dengan penuh semangat, dan tidak lagi membiarkan teman-teman mereka mengambil roti gratis. Progress penjualan pun positif.

Namun, setelah beberapa minggu, Pak Bagus menyadari sesuatu yang aneh. Ketika ia memeriksa rekaman CCTV, ternyata kameranya tidak pernah dinyalakan. Ia lupa menghubungkannya dengan sistem pemantauan!
 
Ketika ia memberi tahu para karyawannya tentang hal itu, mereka semua tertawa malu. Mereka mengira mereka diawasi setiap saat, padahal tidak ada satu pun rekaman yang dibuat. Tetapi sejak saat itu, mereka tetap bekerja dengan baik.
 
***
 
Salah satu hal yang menarik dari puasa adalah keterkaitannya dengan aspek-aspek pengawasan yang menjadi dasar penting dalam membangun kesadaran dan kualitas diri. Ajaran tentang taqwa yang menjadi tujuan puasa, memberikan landasan pengawasan yang dibangun dari unsur kesadaran diri. Intinya pada; meyakini seyakin-yakinnya bahwa Allah itu ada, dan Dia mampu melihat dan mengetahui segala hal melampaui dimensi waktu dan ruang.
 
Mekanisme pengawasan spiritual ini, meski tanpa teknologi, namun dapat bekerja seribu kali lebih kuat dari seribu CCTV yang di pasang di berbagai sudut sebuah kantor, pasar, bandara, atau tempat publik lainnya. Dan seribu kali lebih kuat dan murah dari mekanisme pan opticon penjara yang didesain Jeremy Bentham.
 
Ada beberapa aspek pengawasan yang menarik dapat kita temui dalam puasa. Aspek-aspek itu antara lain; kontrol, system, akuntabilitas, kinerja, serta disiplin dan aturan.
 
Pertama, aspek kontrol yang menekankan pada standar dan indikator puasa. Standar dan indikator dalam puasa telah ditetapkan secara formal yakni rukun, syarat puasa, dan berbagai larangan yang membatalkan puasa. "Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam" (QS. Al-Baqarah: 187).
 
Lalu kinerja diukur, apakah kita menjalankan puasa dengan baik dan menghindari larangan? Selanjutnya, membandingkan standar; apakah kita menjalankan puasa hanya secara fisik menahan lapar dan dahaga, atau juga menjaga hati dan lisan? Dan terakhir ada tindakan korektif; jika terjadi kesalahan (misalnya berbicara kasar), kita segera memperbaikinya dengan istighfar dan selanjutnya meningkatkan amal kebaikan.
 
Dengan begitu, orang yang berpuasa, akan terlatih membangun kontrol diri untuk tidak berseberangan dengan aturan, serta ketentuan lainnya.
 
Kedua; aspek sistem yang menekankan pada mekanisme deteksi dan perbaikan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga bagian dari sistem kehidupan yang menyeluruh, termasuk aspek spiritual, sosial, dan kesehatan. "Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya" (HR. Bukhari).
 
Implementasi dari aspek system yang menekankan mekanisme deteksi dan perbaikan ini adalah jika terdeteksi terjadi penyimpangan, seperti marah atau ghibah, maka harus ada mekanisme koreksi, yakni dengan istighfar dan meningkatkan amal ibadah.
 
Ketiga, aspek akuntabilitas yang menekankan pada tanggung jawab dan transparansi. Puasa melatih kejujuran dan akuntabilitas, karena seseorang bisa saja makan diam-diam tanpa diketahui orang lain, tetapi tetap memilih untuk menaati aturan Allah. "Puasa adalah perisai, maka apabila salah seorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan bertindak bodoh" (HR. Bukhari & Muslim).
 
Dengan begitu, puasa menanamkan rasa tanggung jawab pribadi kepada Allah dan menjaga sikap dalam interaksi sosial. Mereka yang telah mengakar rasa tanggung jawab kepada Allah, sejatinya juga akan menjaga sikap dan prilakunya dalam berinteraksi kepada orang lain, tanpa tertekan aturan-aturan hukum yang ada.
 
Keempat, aspek kinerja yang menekankan pada evaluasi dan peningkatan diri. Puasa juga menjadi alat evaluasi diri dan peningkatan kualitas hidup secara spiritual dan sosial. "Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari & Muslim).
 
Olehnya itu, Ramadhan menjadi bulan transformatif, bulan yang membawa perubahan pada diri yang melaksanakannya. Dengan puasa selama sebulan penuh diharapkan seseorang dapat terus meningkatkan kualitas ibadah, akhlak, dan kerjanya.
 
Kelima, aspek pengawasan birokratik yang mengacu pada sikap disiplin dan kepatuhan pada aturan-aturan. Puasa memiliki aturan yang jelas, baik dalam hal rukun, syarat, hingga konsekuensinya jika tidak dijalankan dengan benar. "Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." (QS. Al-Baqarah: 184).
 
Dengan demikian, orang yang berpuasa akan mematuhi aturan puasa dengan penuh disiplin, termasuk langkah-langkah mengganti puasa yang batal dan membayar fidyah jika diwajibkan.
 
Akhirnya bahwa puasa bukan sekadar ibadah, tetapi juga mekanisme pengawasan diri yang melatih disiplin, kejujuran, dan akuntabilitas. Sebagai bagian dari sistem kehidupan, puasa mendorong perbaikan diri dan peningkatan kualitas spiritual. Dengan aturan yang jelas dan konsekuensi tertentu, puasa mengajarkan ketaatan serta kontrol diri, menjadikannya sarana pembentukan karakter yang berkelanjutan.
 
Wallahu A’lam.
 
Banga, 15 Maret 2025.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

HMTI Unasman Selenggarakan Malam Inagurasi Enc24ption Angkatan 24

Dosen Unasman Memberi Sosialisasi Etika Bermedsos