Ramadhan dan Realitas Pengemis Jalanan

 

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Suatu malam di bulan Ramadhan, Andi keluar dari masjid usai shalat tarawih. Suasana masih ramai, jemaah berlalu-lalang, sebagian menuju parkiran, sebagian lagi berbincang sambil menikmati jajanan di sekitar halaman masjid. Di gerbang, seorang ibu tua duduk bersimpuh, tangannya terulur, wajahnya penuh keriput dan tampak lelah.

"Kasihan, Bu. Ramadhan bulan berkah," gumam Andi dalam hati sambil merogoh saku celananya. Ia lalu menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan si ibu. Perasaan lega dan haru menyelimuti dirinya—setidaknya, ia telah membantu seseorang di bulan suci ini.

Namun, keesokan harinya, di perempatan jalan dekat kantornya, Andi melihat pemandangan yang mengejutkan. Ibu tua yang sama, sedang duduk di trotoar bersama beberapa pengemis lain. Yang membuatnya tercengang, seorang pria bertubuh besar datang menghampiri mereka, tampak memberi instruksi sambil mengumpulkan uang dari masing-masing pengemis. Sejenak, mata si ibu dan Andi bertemu, tapi si ibu buru-buru menunduk.

Hati Andi mendadak bimbang. Apakah sedekahnya benar-benar sampai pada mereka yang membutuhkan? Ataukah ada pihak lain yang mengambil keuntungan dari kemurahan hati masyarakat di bulan Ramadhan?

***

Secara naluriah dan kemanusiaan, siapa pun kita, pasti hatinya tersentuh dan gelisah saat menemukan penderitaan atau ketertindasan di hadapannya. Begitulah yang dirasakan Andi dalam anekdot di atas. Ia mewakili perasaan kita semua. Hati kita sesungguhnya berintikan kasih dan sayang. Mungkin karena itulah Allah memerintahkan kita memulai segala sesuatu dengan basmalah, sebagai kata sandi untuk mengkoneksikan hati dengan Diri-Nya.

Ali Syariati, seorang pemikir Muslim, pernah berkata: "agama yang tidak membela orang-orang miskin dan tertindas, dan justru melanggengkan eksploitasi dan ketimpangan, telah kehilangan esensinya".

Pada esai sebelumnya, saya mengulas bagaimana sejumlah besar orang mendadak menjadi dermawan selama Ramadhan, baik karena dorongan religius maupun karena norma sosial yang menuntut mereka untuk berbagi. Namun, jika kita melihat dari sisi lain, yaitu dari perspektif penerima sedekah, maka fenomena ini menghadirkan dinamika sosial yang berbeda.

Jika pemberi mengalami euforia berbagi di bulan Ramadhan, maka penerima—khususnya pengemis jalanan—mengalami peningkatan kesempatan ekonomi alias rejeki yang tidak mereka dapatkan di bulan-bulan lainnya. Ramadhan bukan hanya menjadi bulan ibadah bagi umat Islam, tetapi juga menjadi "musim panen" bagi mereka yang menggantungkan hidup dari belas kasih orang lain.

Dari perspektif sosial budaya, muncul pertanyaan kritis: apakah fenomena ini memperlihatkan kemiskinan yang sesungguhnya? Apakah meningkatnya jumlah pengemis saat Ramadhan benar-benar mencerminkan kebutuhan mereka, atau ada sistem yang secara sengaja memanfaatkan momen ini?

Setiap tahun, menjelang dan selama Ramadhan, jumlah pengemis di kota-kota besar meningkat drastis. Seperti di Surabaya (Kompas, 26/2/2025), Kota Cimahi (cimahikota.go.id, 14/3/2024), Yogyakarta (news.indozone.id, 27/2/2025).

Mereka hadir di perempatan jalan, masjid, pasar, pekuburan umum, hingga pusat perbelanjaan, memanfaatkan tempat dan momen ketika masyarakat lebih cenderung bersedekah. Ada yang benar-benar membutuhkan, tetapi ada pula yang memanfaatkan situasi.

Sebuah penelitian di Kota Banda Aceh (Sidauruk, 2022) menemukan bahwa pengemis menggunakan berbagai strategi untuk menarik perhatian penderma, seperti menampilkan simbol kemiskinan, menunjukkan disabilitas, menggunakan narasi keagamaan, atau membawa dagangan kecil. Faktor yang mendorong seseorang memilih mengemis antara lain terbatasnya lapangan kerja, kurangnya keterampilan, keinginan mendapatkan uang secara instan, serta masih banyaknya masyarakat yang bersedia memberi.

Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya jumlah pengemis selama Ramadhan antara lain adalah euforia berbagi dan norma sosial. Seperti dibahas dalam esai sebelumnya, Ramadhan menciptakan dorongan atau hasrat sosial yang membuat orang ingin terlihat dermawan. Bagi pengemis dan kelompok rentan lainnya, ini adalah kesempatan emas untuk memperoleh bantuan lebih banyak dibandingkan bulan lainnya.

Di samping itu aspek eksploitasi dan pengorganisiran kemiskinan. Ada indikasi bahwa di beberapa tempat, aktivitas mengemis tidak sepenuhnya dilakukan oleh individu yang benar-benar membutuhkan, melainkan dikelola oleh kelompok tertentu.

Kasus sindikat pengemis yang "mendistribusikan" orang-orang ke titik-titik strategis di kota bukanlah hal baru. Bahkan, beberapa laporan investigasi menemukan bahwa ada orang yang sebenarnya memiliki penghasilan cukup tetapi tetap mengemis karena lebih menguntungkan. Kompas.com merilis (14/2/2025) bahwa di Kota Kediri, ada yang berhasil mengumpulkan 40 juta rupiah dari hasil ngemis. Pemkot Kediri lalu mengingatkan masyarakat untuk bijak memberi bantuan.

Penyebab lain adalah kurangnya solusi jangka panjang. Keberadaan pengemis yang terus meningkat setiap tahun di bulan Ramadhan menunjukkan bahwa pemberian yang bersifat musiman tidak benar-benar menyelesaikan persoalan kemiskinan. Sebaliknya, hal ini bisa menciptakan ketergantungan, di mana orang lebih memilih mengemis setiap Ramadhan daripada mencari solusi ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Sebab lain juga ketika kemiskinan menjadi komoditas. Fenomena ini menunjukkan bagaimana kemiskinan bisa dikapitalisasi. Bukan hanya oleh individu atau kelompok yang mengeksploitasi pengemis, tetapi juga oleh media dan institusi tertentu. Kita sering melihat kampanye donasi besar-besaran yang menampilkan wajah-wajah kemiskinan secara eksplisit, membangun narasi bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk bersedekah.

Namun, apakah semua bantuan ini benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan? Atau apakah citra kemiskinan ini justru menjadi alat bagi pihak-pihak tertentu untuk menggalang dana, membangun popularitas, atau bahkan kepentingan politik?

Dari sini, kita perlu mempertanyakan kembali cara kita melihat kemiskinan di bulan Ramadhan. Apakah membantu pengemis dengan memberi uang di jalan adalah solusi terbaik? Ataukah ada cara yang lebih berkelanjutan, seperti mendukung program pelatihan kerja, usaha mikro, atau kebijakan sosial yang lebih efektif? Apakah Ramadhan benar-benar menjadi bulan kepedulian sosial?

Di sisi lain, negara dan otoritas setempat juga perlu memiliki regulasi yang jelas terkait fenomena ini. Kampanye amal dan kegiatan filantropi seharusnya tidak hanya bersifat musiman, tetapi diarahkan pada pemberdayaan yang berkelanjutan.

Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis, melalui konsep habitus serta modal sosial dan simbolik, menjelaskan bahwa praktik filantropi di ruang publik sering kali bukan hanya soal kepedulian, tetapi juga soal simbol status dan modal sosial. Ini sebuah kritik bahwa sebagian sedekah yang diberikan di jalanan lebih bersifat performatif daripada solusi struktural.

Akhirnya kita semua sepakat bahwa Ramadhan adalah bulan yang Allah berikan kemuliaan di dalamnya. Namun cara kita menyikapi kemuliaan itu dalam realitas sosial, nampaknya perlu lebih elegan, bijak dan bermakna, sehingga lebih berdampak, bermanfaat, dan berkelanjutan. Dengan begitu, pemberian kita bukan sekedar ritual agama musiman yang lepas dari tuntutan realitas sosialnya yang terus bergerak dinamis.

Wallahu A’lam.

Banga, 6 Maret 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

HMTI Unasman Selenggarakan Malam Inagurasi Enc24ption Angkatan 24

Dosen Unasman Memberi Sosialisasi Etika Bermedsos