SOTR, antara Solidaritas dan Citra
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Dini hari malam itu, jalanan ibu kota masih juga ramai. Sekelompok anak muda dengan kostum komunitasnya berkumpul di pinggir jalan, membawa kotak-kotak makanan. “Oke, kita siap! Rekam ya, biar ada dokumentasi,” ujar seorang yang memegang kamera ponsel.
Mulailah mereka membagikan nasi bungkus terutama kepada para pemulung, pengamen dan gelandangan. Seorang pengamen muda dan lelaki tua yang menerima makanan itu mengangguk, mata mereka ngantuk berat, setengah terpejam. “Terima kasih, Nak”! “Terima kasih kakak”! Ucap keduanya lirih. Tapi sebelum sempat membuka bungkusannya, seorang dari kelompok itu berjongkok di samping kedua penerima nasi kotak, tersenyum ke arah kamera. “Oke, foto dulu Bapak, Adik. Biar yang lain lihat kita di medsos,” katanya.
Setelah semua makanan dibagikan, mereka kembali ke motor masing-masing. “Gimana, cocok gak kontennya?” Tanya salah satu dari mereka sambil melihat hasil rekaman. “Bagus nih! Biar followers tahu kalau kita peduli.” Mereka tertawa kecil, merasa misi selesai.
Sementara itu, di trotoar yang kini mulai sepi, pengamen muda tadi masih memegang nasi bungkusnya. Memandang ke arah mereka yang pergi sejak tadi. Dalam hati ia bertanya-tanya: “apakah ini benar-benar tentang ‘berbagi’, atau sekedar tentang ‘terlihat berbagi’, dan aku hanyalah aktor figuran yang dihonor dengan sekotak nasi”?
“Ah, bodoh amat. Nyatanya aku memang ingin sahur”, bantahnya sendiri dalam hati.
***
Dari manakah asal-usul kegiatan Sahur On The Road (SOTR)? Tidak ada catatan sejarah yang pasti, tetapi tradisi ini mulai populer di Indonesia setidaknya sejak awal 2000-an, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Pada awalnya, SOTR dilakukan oleh komunitas-komunitas kecil dan organisasi sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap kaum dhuafa yang hidup di jalanan.
SOTR kemungkinan besar berkembang dari tradisi berbagi makanan sahur yang sudah lama ada dalam budaya Islam. Dalam ajaran Islam, terdapat anjuran untuk memberi makan orang yang berpuasa, sebagaimana hadis Rasulullah ﷺ:
"Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun". (HR. Tirmidzi)
Namun dalam perkembangannya, SOTR mengalami pergeseran. Jika awalnya dilakukan dengan penuh kesederhanaan dan ketulusan, belakangan banyak yang menjadikannya sebagai ajang unjuk eksistensi, pencitraan, atau sekadar aktivitas tahunan tanpa perencanaan yang matang. Selain itu, SOTR juga sering dikaitkan dengan budaya anak muda yang ingin merasakan suasana malam Ramadhan di jalanan, yang mungkin tanpa memahami esensi dari kegiatan berbagi itu sendiri.
Dalam konteks urban, SOTR juga bisa dilihat sebagai respons terhadap meningkatnya ketimpangan sosial di kota-kota besar. Kehadiran kelompok-kelompok yang membagikan makanan sahur mencerminkan adanya kesenjangan yang nyata antara mereka yang berlebih dan mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Kita harus jujur, SOTR memiliki beberapa aspek positif yang tak bisa diabaikan.
STOR dapat membangun kepedulian sosial. Kegiatan ini menjadi momentum bagi anak muda dan komunitas untuk lebih peka terhadap kondisi kaum dhuafa. Interaksi langsung dengan mereka yang kurang beruntung dapat menumbuhkan rasa empati.
SOTR juga dapat memperkuat semangat berbagi. Ramadhan memang momen untuk meningkatkan solidaritas, dan SOTR bisa menjadi sarana konkret untuk berbagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan, terutama para tunawisma dan pekerja malam yang sering kali terabaikan.
Selain itu juga menumbuhkan kebersamaan. Kegiatan ini sering dilakukan secara berkelompok, yang dapat mempererat hubungan antaranggota komunitas. Dengan bekerja sama dalam menyiapkan makanan hingga mendistribusikannya, partisipan bisa merasakan nilai kebersamaan dalam kebaikan.
SOTR menjadi pengalaman berharga bagi pesertanya. Banyak yang pertama kali, ikut merasakan perubahan perspektif terhadap kehidupan. Melihat langsung kehidupan jalanan di tengah malam dapat menjadi refleksi tentang rasa syukur dan tanggung jawab sosial.
Walau demikian, di balik niat mulia, SOTR kerap mendapat kritik yang justru perspektifnya berbeda.
SOTR berpotensi sekedar pencitraan dan eksploitasi penerima bantuan. Tidak jarang, kegiatan ini lebih berorientasi pada dokumentasi ketimbang esensi berbagi. Dokumentasi berlebihan, bantuan seadanya. Lebih sibuk mengambil foto atau video untuk diunggah ke media sosial. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka "peduli" dan "dermawan," padahal bantuan yang diberikan sering kali tidak sebanding dengan citra besar yang dibangun.
SOTR hanya bersifat insidental. Pembagian makanan satu malam tidak serta-merta mengubah kondisi kehidupan para penerima manfaat. Dibandingkan sekadar membagikan makanan sekali, solusi yang lebih berkelanjutan seperti program pemberdayaan sosial bisa lebih berdampak.
Tidak jarang kelompok atau individu tiba-tiba peduli dan dermawan. Kepedulian terhadap kaum dhuafa hanya muncul saat Ramadhan dan menghilang setelahnya. SOTR lebih menjadi tren tahunan daripada aksi sosial yang berkelanjutan. Kepedulian yang tulus seharusnya tidak bergantung pada momen tertentu saja.
SOTR yang bersifat pencitraan sering kali hanya berorientasi pada aksi satu malam. Tanpa memastikan apakah penerima benar-benar membutuhkan, atau tanpa mengedukasi mereka tentang cara mendapatkan bantuan yang lebih berkelanjutan.
SOTR juga berpotensi menimbulkan gangguan ketertiban dan keamanan. Beberapa kasus menunjukkan bahwa rombongan SOTR justru menimbulkan kemacetan di jalan raya atau bahkan bentrokan antar kelompok. Konvoi kendaraan yang tidak teratur, suara bising, hingga aksi kebut-kebutan bisa mengganggu ketertiban masyarakat.
Jika dilakukan tanpa pemahaman dan penghayatan, mungkin akan dilakukan dengan sikap kurangnya penghormatan terhadap penerima bantuan. Hal ini justru bisa membuat penerima merasa kurang dihargai.
Lebih parah lagi bila terjadi (semoga tidak); peserta SOTR setelah kegiatan justru melewatkan sahur mereka sendiri, tidak sempat salat Subuh, atau bahkan memilih tidur tanpa menyempurnakan ibadah Ramadhan.
Untuk memastikan bahwa SOTR benar-benar menjadi ajang solidaritas yang bermanfaat tanpa mengabaikan esensi ibadah adalah dengan perencanaan yang lebih baik dan pengawasan yang lebih ketat.
SOTR harus dilakukan dengan niat yang tulus, bukan hanya demi pencitraan atau sekadar ajang kumpul-kumpul. Salah satu cara untuk memastikan ketulusan adalah dengan melibatkan komunitas yang sudah memiliki pengalaman dalam kegiatan sosial, seperti lembaga zakat atau organisasi kemanusiaan.
SOTR sebaiknya selesai sebelum waktu sahur habis, sehingga peserta masih memiliki waktu untuk makan sahur dan menunaikan salat Subuh. Beberapa komunitas bahkan bisa mengakhiri kegiatan dengan sahur bersama dan salat berjamaah di masjid.
Kegiatan ini harus dikemas sebagai aksi sosial yang damai, bukan ajang konvoi yang mengganggu ketertiban atau memicu konflik di jalanan. Jika perlu, koordinasi dengan pihak berwenang bisa dilakukan untuk memastikan keamanan.
Peserta perlu memahami bahwa membantu sesama tidak harus dilakukan dengan cara SOTR. Jika ada risiko lebih besar dalam pelaksanaannya, mereka bisa mencari alternatif lain, seperti menyumbang langsung ke dapur umum, panti asuhan, atau komunitas yang memang secara rutin menyalurkan bantuan kepada kaum dhuafa.
Wallahu A’lam.
Banga, 4 Maret 2025
Komentar