Memburu Lailatul Qadr: Transaksional atau Transformatif?

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Malam itu, Rahman duduk di saf paling depan masjid, sarungnya rapi, baju kokonya masih berbau wangi cendana, dan tasbih digital berkilau di tangannya. Ia sudah siap menghabiskan malam dengan doa, zikir, tahajud, dan tilawah. "Ini malam ke-23, peluang besar dapat lailatul qadr ", batinnya penuh semangat. Namun, di luar masjid, suasana berbeda. Seorang bapak tua begadang berjualan gorengan dengan gerobak sederhana. Tangannya gemetar setiap mengemas pesanan. Ia dengan penuh harap dagangannya laku agar bisa membeli beras untuk keluarganya. Tiba-tiba, sekelompok pemuda datang. Mereka tertawa, mendorong gerobaknya hingga beberapa gorengan jatuh ke tanah. "Pak, sudah malam! Jualan terus? Kasih gratis lah, biar pahala puasanya nambah"! Kata salah seorang dari mereka, disambut tawa teman-temannya. Si bapak tua hanya bisa tersenyum lemah. "Maaf, Nak… ini buat makan keluarga saya…", katanya pelan. Rahman...