Postingan

Memburu Lailatul Qadr: Transaksional atau Transformatif?

Gambar
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Malam itu, Rahman duduk di saf paling depan masjid, sarungnya rapi, baju kokonya masih berbau wangi cendana, dan tasbih digital berkilau di tangannya. Ia sudah siap menghabiskan malam dengan doa, zikir, tahajud, dan tilawah. "Ini malam ke-23, peluang besar dapat lailatul qadr ", batinnya penuh semangat. Namun, di luar masjid, suasana berbeda. Seorang bapak tua begadang berjualan gorengan dengan gerobak sederhana. Tangannya gemetar setiap mengemas pesanan. Ia dengan penuh harap dagangannya laku agar bisa membeli beras untuk keluarganya. Tiba-tiba, sekelompok pemuda datang. Mereka tertawa, mendorong gerobaknya hingga beberapa gorengan jatuh ke tanah. "Pak, sudah malam! Jualan terus? Kasih gratis lah, biar pahala puasanya nambah"! Kata salah seorang dari mereka, disambut tawa teman-temannya. Si bapak tua hanya bisa tersenyum lemah. "Maaf, Nak… ini buat makan keluarga saya…", katanya pelan. Rahman...

Dasein dan Taqwa: Menafsir Tujuan Puasa Ramadhan

Gambar
  Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)   Dalam suatu moment, Hasan dan Rahmat memutuskan untuk mendaki gunung bersama. Mereka membawa perbekalan secukupnya dan memulai perjalanan saat matahari baru saja terbit. Di tengah perjalanan, Hasan mulai merasa lelah. Ia berhenti dan berkata, “Mengapa kita harus mendaki? Apa gunanya semua ini”? Rahmat tersenyum sambil melanjutkan langkahnya. “Kita sudah memulai perjalanan ini, jadi kita harus menyelesaikannya”, katanya. Hasan menggeleng. “Tapi siapa yang menentukan bahwa kita harus mencapai puncak? Bukankah kita hanya mengikuti jejak pendaki sebelumnya tanpa benar-benar tahu apa yang kita cari”? Rahmat berhenti sejenak dan menatap ke langit. “Aku tidak tahu tentang pendaki lain. Aku hanya tahu bahwa aku mendaki karena aku percaya ada sesuatu yang lebih di atas sana”. Malam itu, mereka mendirikan tenda di tengah hutan. Angin berhembus pelan, dan langit bertabur bintang. Hasan duduk termenung, merenungkan kata-kata sahabatnya....

State of Nature Rousseau dan Puasa Ramadhan

Gambar
  Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)   Dikisahkan bahwa di sebuah kerajaan yang makmur, hiduplah seorang raja yang gemar berpesta dengan makanan-makanan mewah. Ia memiliki koki terbaik yang selalu menyajikan hidangan dengan bahan-bahan termahal: daging rusa, rempah-rempah dari negeri jauh, dan anggur pilihan. Setiap malam, ia duduk di meja panjang penuh hidangan, menikmati makanan tanpa pernah merasa lapar.   Suatu hari, raja mengunjungi seorang petani tua di desa. Ia melihat petani itu duduk di depan gubuknya, hanya dengan sepotong roti kering dan air dari sumur.  Dengan rasa ingin tahu, raja bertanya,  "Mengapa kau terlihat begitu puas hanya dengan roti keras dan air?"   Sang petani tersenyum dan menjawab; "Baginda, makanan paling lezat bukanlah yang dibuat dengan emas, tetapi yang dimakan dengan rasa lapar. Sejak pagi aku bekerja di ladang, dan kini, karena lelah dan lapar, roti ini terasa seperti hidangan istana. Tetapi Baginda, kapan tera...

Al-Qur’an yang Teralienasi

Gambar
  Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)   Ali sedang membersihkan rak bukunya ketika tangannya menyentuh sesuatu yang berdebu. Ia menariknya pelan—ternyata sebuah mushaf Al-Qur’an. Ia meniup debu di sampulnya, lalu tersenyum kecut. "Sudah lama sekali", gumamnya.   Dulu, saat kecil, ia rajin mengaji bersama kakeknya. Setiap malam, mereka membaca Al-Qur’an bersama. Kakeknya selalu berpesan, "Jangan biarkan Al-Qur’an hanya jadi pajangan. Baca, pahami, amalkan". Tapi setelah kakeknya wafat, kebiasaan itu ikut menghilang.   Ali membuka halaman pertama, melihat pesan itu tampak berupa catatan kecil di pinggir kertas—tulisan tangan kakeknya sendiri. Ia terdiam sejenak, lalu tiba-tiba ponselnya bergetar di meja. Notifikasi muncul: "Jangan lupa baca Al-Qur’an hari ini"!   Ia melirik layar, lalu menghela napas. Sejak dulu, ia sudah mengunduh aplikasi Al-Qur’an digital di ponselnya. Tapi sejujurnya, ia lebih sering mengabaikan notifikasi itu dibandingkan m...

Manipulasi Moral dalam Beragama

Gambar
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)   Di sebuah desa kecil, hidup seorang lelaki bernama Pak Hisam. Ia dikenal sebagai sosok yang paling rajin beribadah. Azan belum berkumandang, ia sudah di masjid. Ia selalu berada di barisan depan saat shalat berjamaah, rajin bersedekah, dan sering memberikan ceramah agama di masjid. Ia pun sering menasihati orang-orang di kampungnya, terutama para anak muda yang ia anggap mulai "longgar" dalam beragama.   Suatu hari, Amir datang dengan wajah ragu-ragu.   "Pak, saya ingin bertanya. Apakah berdosa jika saya tidak bisa puasa penuh karena sakit"?   Pak Hisam menatapnya sejenak, lalu menghela napas. Dengan suara berat, ia berkata, "Nak, bukankah kita diajarkan untuk menahan diri? Orang yang beriman pasti bisa melawan godaan lapar dan haus, kecuali kalau sakitnya benar-benar parah. Tapi kalau hanya lemas sedikit, ya, harus tetap berusaha. Kamu mau jadi Muslim yang kuat atau lemah?"   Amir terdiam. Ia tahu bahwa...

Kitabun Marqum dan Artificial Intelligence

Gambar
Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Suatu hari, seorang ilmuwan data bernama Dr. Faris sedang mengembangkan sistem kecerdasan buatan (AI) yang mampu mencatat semua aktivitas manusia secara otomatis. Ia percaya bahwa teknologi dapat membantu menciptakan sistem keadilan yang sempurna. "Bayangkan", kata Faris kepada sahabatnya, Andank, seorang pemuda yang mendalami ilmu agama. "Jika kita bisa membuat AI yang mencatat setiap perkataan, tindakan, bahkan niat seseorang, maka kita bisa menghindari ketidakadilan. Tidak ada lagi penjahat yang lolos, dan tidak ada orang baik yang terzalimi"! Andank tersenyum dan bertanya, "jadi kamu ingin membuat Kitabun Marqum versi digital"? Faris terdiam. "Kitabun Marqum"? "Ya", jawab Andank. "Dalam Islam, segala amal manusia dicatat dengan sempurna, tanpa celah, tanpa manipulasi. Malaikat mencatat setiap kebaikan dan keburukan, dan semuanya tersimpan dalam kitab yang tak bisa diubah". F...

Ramadhan dan Kesenjangan Digital

Gambar
  Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, hiduplah seorang kakek bernama Pak Salim. Ia menjalani Ramadhan dengan cara yang ia kenal sejak kecil—bangun sahur mendengar suara beduk masjid, menunggu adzan maghrib di serambi rumah, dan mengaji dengan mushaf tua yang lembar-lembar halamannya mulai menguning. Suatu hari cucunya, Rafi, datang dari kota untuk menghabiskan Ramadhan bersama. Rafi membawa smartphone canggih dan penuh semangat memperlihatkan berbagai aplikasi yang dapat digunakan untuk aktivitas Ramadhan. "Kakek, sekarang sahur tidak perlu nunggu beduk. Ada alarm otomatis di aplikasi ini! Dan jadwal imsak juga bisa dicek langsung”! Katanya. Pak Salim tersenyum, lalu bertanya, "Lalu bagaimana cara mengetahui kapan hilal muncul”? "Oh, itu juga bisa dicek di media sosial. Ada siaran langsung pengamatan hilal. Bahkan ada aplikasi hilal"! Rafi menjawab dengan bangga. Pak Salim mengangguk pelan. "Lalu, kal...